Langsung ke konten utama

Boy From Hospital


Disebuah kursi kayu panjang yang ada di halaman rumahnya, Ayane masih setia menunggu. Menunggu, menunggu dan menunggu. Gadis itu melakukannya sendiri dalam diam dan terus berdoa untuk seseorang yang sangat ia rindukan itu.
Sepuluh tahun Ayane melewati bulan Oktober seorang diri. Gadis bermarga Fujito itu tetap tak terusik ketika di pangkuannya sudah mulai di penuhi dedaunan yang berguguran. Musim gugur yang sudah memasuki fasenya membuat dedaunan dai pohon maple berjatuhan. Percampuran warna kuning, merah, kecoklatan, oranye bersatu menghasilkan sebuah pemandangan alami yang luar biasa indah.
“Ya Tuhan, apakah dia benar-benar akan datang?” Gumam Ayane lirih.
Gadis itu memngerjapkan kedua matanya yang tertutup dan mendongakan wajahnya ke atas, membiarkan salju berjatuhan di atas permukaan wajah cantiknya. Ayane kembali memutar kenangan yang pernah terjadi sepuluh tahun yang lalu. Gadis itu tak pernah bisa menghapus ingatan tentang kejadian terindah dalam hidupnya.
Malam itu, malam pertama turunnya salju di Kyoto ketika Ayane berusia lima belas tahun. Ayane adalah gadis yang cantik dan ia masih bersikap kekanakan di usia remajanya. Ayane sangat menggemaskan, banyak orang beranggapan seperti itu.
Ayane sangat suka ketika musim salju tiba. Ayane akan langsung berhambur keluar rumah untuk bermain salju. Gadis itu selalu bermain dengan teman-temannya dan membawa serta Miku boneka beruang kesayangannya. Ayane tak jarang membuat ibunya merasa cemas ketika ia berada terlalu lama diluar rumah.
“Miku, aku akan membuatkan ibu dari salju untukmu” Ucap Ayane sebelum ia meletakan boneka beruangnya di atas tumpukan ranting.
“Ayane-chan, kami harus pulang sekarang karena sebentar lagi akan ada badai salju” Ucap salah satu teman Ayane yang menggunakan mantel berwarna merah muda. Tiga bocah perempuan lainnya yang berdiri berbaris di belakang bocah perempuan itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
 “Aku tidak bisa berlama-lama karena akan ada badai salju. Aku pulang, Ayane-chan” Ucap Yui sebelum ia berlari meninggalkan Ayane dan boneka beruangnya.
“Aku juga”
 “Aku juga, Ayane-chan”
Suara riuh bocah perempuan yang tak lain adalah teman bermain Ayane saling bersautan. Mereka berempat benar-benar pulang dan meninggalkan Ayane sendirian di pekarangan luas rumah gadis itu. Ayane tak memerdulikannya, ia kembali pada tujuan awalnya yang ingin membuatkan boneka beruang besar dari salju untuk Miku.
Kebetulan hari ini dirumah Ayane sepi karena ibunya bekerja lembur dan kakak laki-lakinya, Katsuo sedang menginap di rumah neneknya. Dengan begitu, Ayane bisa leluasa bermain di luar rumah tanpa pengawasan ibu dan kakaknya. Padahal sebelum ibunya berangkat bekerja, pintu kayu rumahnya sudah dikunci dan kuncinya dibawa oleh ibunya. Tetapi, bukan Ayane jika ia menyerah untuk apa yang ia inginkan.
“Miku, bukankah ini mirip sepertimu?” Tanya Ayane setelah dua jam gadis itu berkutat dengan tumpukan salju yang ada di halaman rumahnya dan berhasil membuat sebuah boneka beruang besar dari salju. Senyum gadis itu mengembang dan Ayane sesekali berteriak kegirangan karena keberhasilannya membuat boneka beruang salju itu.
“Waaa...” Ayane berteriak ketika melihat boneka beruang salju yang baru saja ia buat ambruk begitu saja dengan seorang bocah laki-laki tersungkur di atasnya.
“Hei!” Ayane meneriaki bocah laki-laki itu.
“Kenapa kau menabraknya? Kau sudah merusak ibu Miku. Dasar bocah nakal!” Ayane langsung menyerang bocah laki-laki itu. Kedua tangan Ayane memukul-mukul punggung bocah laki-laki itu tanpa perasaan.
“Berhenti!” Bocah laki-laki itu bersuara dan suaranya sangat kencang membuat Ayane sedikit tercengang mendengarnya. Ayane tak mendengarnya dan masih terus memukuli punggung bocah laki-laki itu.
“Kubilang berhenti!”
“Aku butuh bantuanmu dan kau harus membantuku”
“Tidak mau! Kau orang asing. Aku tidak mau”
“Aku butuh bantuanmu gadis kecil”
Bocah laki-laki itu berdiri dan langsung menarik tangan Ayane dengan paksa. Ayane sedikit takjub dengan pergerakan bocah laki-laki itu ketika tubuhnya ditarik dan dibawa berlari ke arah pintu rumahnya yang sedikit terbuka.
“Ayo kita masuk! Kita harus bersembunyi!” Perintah bocah laki-laki itu setelah tangan kanannya berhasil meraih pintu kayu rumah Ayane.
“Ini rumahku, kau tidak bisa masuk sembarangan ke dalam rumahku” Ayane berontak dan berusaha melepaskan tangan bocah laki-laki itu dari tangannya.
“Berhenti! Kau tidak boleh kelelahan”
“Mereka semakin mendekat. Ayo!”
“Kau akan baik-baik saja. Berhenti...”
“Kita dalam bahaya. Apa kau mau merasakan jarum suntik di lenganmu?” Tanya bocah laki-lak itu dengan suara melemah.
“Tap... Tapi aku tidak kenal dengan dirimu. Ibuku bilang, aku tidak boleh membawa masuk orang yang tak kukenal ke dalam rumah” Jawab Ayane dengan sedikit tergagap.
“Aku bukan orang jahat. Aku hanya bocah laki-laki yang tidak berbahaya” Ucap bocah laki-laki itu.
Keduanya berhasil masuk ke dalam rumah Ayane setelah pintu kayu itu bergesar dan membuat sedikit celah. Bocah laki-laki itu menarik Ayane agar mendekatinya. Mereka duduk di dekat lemari besar di ruang tengah rumah Ayane. Karpet bulu yang menjadi alas mereka duduk memberi sedikit rasa hangat untuk keduanya.
“Apa kau tinggal sendiri di rumah ini?” Tanya bocah laki-laki itu.
Ayane tak menggubris karena tiba-tiba ia merasa kedinginan setelah angin berhembus menyambangi tubuh mungilnya. Wajah Ayane berubah menjadi sedih karena ia mendapati kedua kakinya yang telanjang tanpa pembungkus apapun. Ayane baru ingat jika saat ia keluar dari rumah tadi ia tak memakai kaos kaki dan juga sepatu. Gigi putih Ayane mulai gemetaran dan bibirnya terlihat pucat.
“Namaku, Okto” Bocah laki-laki itu membuka suaranya.
“Siapa namamu?”
“Ayane, Fujito Ayane” Jawab Ayane seadanya.
“Apa kau sedang kedinginan?”
“Ibuku sepertinya lupa meyalakan penghangat ruangan ini” Tambah Ayane.
Okto berusaha menghangatkan tubuh gadis mungil itu. Tangan kanannya meraih kedua tangan mungil Ayane lalu meniupnya secara bergantian. Tak selang beberapa menit, ia melepaskan kaos kaki yang ia kenakan dan memasangkannya di kaki Ayane. Okto juga menyampirkan kain yang tadi ia kenakan untuk menghangatkan tubuhnya di tubuh mungil Ayane.
“Tubuhmu dingin sekali, Ayane”
“Aku menggigil”
“Kau terlihat pucat, biar aku memelukmu”
“Hah?”
“Kau sedang kedinginan, biarkan aku memelukmu”
Tanpa persetujuan Ayane, Okto langsung menarik tubuh mungil gadis itu. Okto membawa tubuh Ayane ke dalam dekapannya. Ayane kembali terkejut dengan perlakuan bocah laki-laki yang menurutnya asing itu. Gadis itu hanya bisa mengedipkan kedua matanya berkali-kali untuk menyesuaikan apa yang sedang dirasakannya saat ini.
Ayane tak memungkiri jika dinginnya suhu ketika musim salju tiba memang membuat tubuhnya selalu kedinginan. Ditambah dengan ibunya yang lupa menyalakan penghangat ruangan, Ayane semakin merasa mengigil. Biasanya, ibunya akan membuatkan secangkir cokelat panas untuknya dan juga Katsuo. Tetapi, ibunya hari ini sedang bekerja lembur.
“Apa kau kabur dari rumah sakit?” Tanya Ayane ketika ia sadar pakaian yang digunakan Okto begitu familiar untuknya.
“Iya. Aku tidak ingin di operasi karena aku tidak sakit” Jawab Okto. Ayane mendorong tubuh Okto dan membuat pelukannya terlepas. Ayane meneliti wajah Okto dengan seksama. Bocah laki-laki itu terlihat pucat. Kedua matanya cekung ke dalam dengan lingkar hitam yang begitu kentara. Okto terlihat sangat mengenaskan karena tubuhnya kurus. Benar-benar seperti mayat hidup, batin Ayane. Beberapa bulan lalu, Ayane melihat kakaknya sakit dan dirawat di rumah sakit. Tetapi, Katsou tidak berwajah pucat dan kurus seperti mayat hidup.
“Apa sudah membaik?”
“Sudah lebih baik” Ayane berucap dengan lirih.
“Ayane”
“Hmm...”
“Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke tujuh belas tahun. Aku merasa senang”
“Kalau begitu, selamat”
“Ayane”
“Apa?”
“Ayane, sepertinya aku suka padamu”
“Hah?”
“Iya, aku suka padamu”
“Kau sakit”
 “Tidak, aku tidak sakit”
“Kau memang tidak sakit, tapi jiwamu yang sakit”
“Tapi aku menyukaimu. Apa kau juga menyukaiku?”
“Aku tidak mungkin menyukai seseorang yang sakit”
“Aku tidak sakit. Ah, tunggu. Jika aku tidak berarti sakit kau akan menyukaiku?” Pertanyaan Okto barusan membuat Ayane diam.
Pipi tembam Ayane seketika memerah padam. Gadis itu langsung menundukkan kepalanya. Menyembunyikan raut malu yang alami timbul di wajahnya. Ayane merasa jantungnya berdegup dengan cepat. Senyum tipisnya begitu saja timbul tanpa ia sadari. Ayane bingung memikirkan jawabannya.
“Aku menyukai gadis kecil yang tadi membentakku. Di ulang tahunku ini, aku merasa sangat bahagia bisa bertemu denganmu” Sambung Okto. Ayane masih bungkam dan memilih diam karena otaknya belum mampu menerima pernyataan Okto barusan.
KREEEKKK...
Tiba-tiba pintu kayu rumah Ayane perlahan terbuka dan memunculkan dua orang pria berpakaian putih disana. Keduanya berjalan menghampiri Ayane dan juga Okto. Ayane langsung melemparkan pandangannya kepada Okto yang wajahnya terlihat pasrah.
 “Kalian menemukanku” Ucap Okto.
“Diluar sangat dingin, kemarilah. Ikut bersama kami” Ajak salah satu dari dua pria itu. Okto hanya mengangguk lemah.
“Aku akan sembuh dari sakitku agar kau menyukaiku, Ayane” Ucap Okto. Tangan kanannya terangkat untuk mengusap puncak kepala Ayane. Okto tersenyum penuh harap pada Ayane.
“Kau akan menyukaiku jika aku tidak sakit, kan?” Ayane hanya menganggukan kepalanya seakan terhipnotis dengan senyuman Okto.
“Kau harus menungguku. Aku akan datang untukmu” Jelas Okto.
“Kapan?” Tanya Ayane terdengar tak sabaran.
“Jika aku sembuh, aku akan datang padamu. Aku berjanji”
“Aku akan menunggumu”
“Aku akan kembali”
Okto langsung berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri dua orang pria berbaju putih yang sejak tadi sudah menunggunya. Dua orang pria itu menggandeng tangan Okto dan berjalan berdampingan. Ayane terlihat sangat sedih ketika Okto semakin jauh darinya. Bocah laki-laki itu tak menolehkan kepalanya lagi ke arah Ayane setelah melewati ruangan tengah rumahnya.
“Okto” Panggil Ayane lirih. Bocah laki-laki itu berhenti berjalan dan menolehkan kepalanya.
“Selamat ulang tahun” Ucap Ayane seraya menahan air matanya yang sudah berkumpul di kelopak matanya. Gadis itu tersenyum penuh pada Okto.
“Terimakasih, Ayane” Balas Okto. Bocah laki-laki itu kemudian kembali menarik kepalanya dari hadapan Ayane dan kembali berjalan.
Pintu kayu rumahnya kembali tertutup. Sekarang, Okto benar-benar meninggalkannya. Ayane sendiri tak tau kapan Okto akan kembali padanya. Ia merasa kehilangan bocah laki-laki itu.
“Ya Tuhan, semoga hari ini Okto berbahagia” Harap Ayane dalam hati.
 “Aku berjanji, Okto. Aku akan menunggumu” Ucap Ayane. Gadis itu kemudian terduduk lemas dan menundukkan kepalanya. Tak lama waktu berselang, isakan kecil terdengar. Ayane menangis. Ayane merasa menyesal karena tak bisa memiliki waktu yang lama untuk bersama dengan bocah laki-laki itu. Ayane bertekad untuk menepati janjinya menunggu Okto kembali lagi padanya.

Author : Kiki Ningrum, 2015


Komentar