Disebuah kursi kayu panjang yang ada di halaman rumahnya, Ayane masih setia menunggu. Menunggu, menunggu dan menunggu. Gadis itu melakukannya sendiri dalam diam dan terus berdoa untuk seseorang yang sangat ia rindukan itu. Sepuluh tahun Ayane melewati bulan Oktober seorang diri. Gadis bermarga Fujito itu tetap tak terusik ketika di pangkuannya sudah mulai di penuhi dedaunan yang berguguran. Musim gugur yang sudah memasuki fasenya membuat dedaunan dai pohon maple berjatuhan. Percampuran warna kuning, merah, kecoklatan, oranye bersatu menghasilkan sebuah pemandangan alami yang luar biasa indah. “Ya Tuhan, apakah dia benar-benar akan datang?” Gumam Ayane lirih. Gadis itu memngerjapkan kedua matanya yang tertutup dan mendongakan wajahnya ke atas, membiarkan salju berjatuhan di atas permukaan wajah cantiknya. Ayane kembali memutar kenangan yang pernah terjadi sepuluh tahun yang lalu. Gadis itu tak pernah bisa menghapus ingatan tentang kejadian terindah dalam hidupnya. Malam itu, ...
Plakk ... ! !! “ Sudah kubilang jangan memintaku untuk menikahi dirimu. Aku masih ingin bebas. Lagipula, a ku ragu jika bayi yang ada dalam kadunganmu adalah anakku. Kau ini punya banyak mantan kekasih. Bisa saja anak yang kau kandung adalah anak dari salah satu mantan kekasihmu itu ” Pria berkulit putih pucat itu membentak wanita yang tengah menangis tersedu-sedu di depannya. “ Aku tidak pernah memiliki hubungan dengan pria selain dirimu. Mereka hanya teman-temanku ” Sergah wanita itu dengan suara bergetar . Pandangannya menunjukan rasa sakit yang teramat pada pria yang berdiri di hadapannya. “ Apa aku bisa mempercayainya? ” Tanya pria itu dengan suara yang tinggi. Pria itu terlihat frustasi, ia kemudian mengacak rambutnya kasar. Wanita itu tak kalah frustasi darinya. Mereka berdua, sepasang kekasih yang sedang berduel itu tampak tak memperdulikan setiap orang yang berlalu lalang di jalan setapak itu. Salah satu jalan yang selalu ramai di Melbourne itu menjadi saksi pert...