Plakk...!!!
“Sudah kubilang jangan memintaku untuk menikahi
dirimu. Aku masih ingin bebas. Lagipula, aku ragu jika bayi yang ada dalam kadunganmu adalah anakku. Kau ini punya
banyak mantan kekasih. Bisa saja anak yang kau kandung adalah anak dari salah satu
mantan kekasihmu itu” Pria berkulit putih
pucat itu membentak wanita yang tengah menangis tersedu-sedu di depannya.
“Aku tidak pernah memiliki hubungan dengan pria selain
dirimu. Mereka hanya teman-temanku” Sergah wanita itu dengan suara bergetar. Pandangannya
menunjukan rasa sakit yang teramat pada pria yang berdiri di hadapannya.
“Apa aku bisa mempercayainya?” Tanya pria itu dengan suara yang tinggi. Pria
itu terlihat frustasi, ia kemudian mengacak rambutnya kasar. Wanita itu tak kalah
frustasi darinya.
Mereka berdua,
sepasang kekasih yang sedang berduel itu tampak tak memperdulikan setiap orang
yang berlalu lalang di jalan setapak itu. Salah satu jalan yang selalu ramai di
Melbourne itu menjadi saksi pertengkaran hebat pasangan kekasih yang tengah
kacau. Termasuk sepasang
mata yang memperhatikan pasangan tersebut dari balkon hotel di atas sana.
“Aku tidak pernah ingin kau hamil seperti saat ini. Jadi, gugurkan saja anak itu. Aku tidak menginginkannya” Pria itu berkata dengan entengnya. Ia tak berpikir
jika kata-katanya barusan begitu panas dan menusuk ke dalam hati wanita yang
sejak tadi hanya meremas ujung kaos merah muda yang ia pakai.
“Aku berani bersumpah jika ini adalah anakmu”
Ucap wanita itu dengan tegas setelah membebaskan bulir air mata yang turun
membasahi pipi tirusnya.
“Aku tidak mungkin percaya begitu saja. Jika
benar itu adalah anakku, aku tak akan pernah mau dia lahir di dunia ini. Kau
ini hanya wanita miskin dan aku tidak mungkin menikahi wanita sepertimu. Kau
paham?” Pria itu berucap sambil menatap tajam ke arah jalanan.
“Gugurkan kandunganmu” Sambung pria itu. Kedua mata wanita itu melebar. Ia terkejut
bukan main mendengar ucapan pria yang sekarang sedang menatapnya datar.
“Baik! Aku akan melakukannya. Aku akan segera
menggugurkan kandungan ini. Tak ada yang menginginkannya hadir termasuk ayahnya
sendiri. Dia hanya akan menjadi bahan olokan orang banyak jika dia lahir.
Terima kasih atas semua yang telah kau berikan padaku selama ini. Aku senang
telah bertemu dan mengenalmu” Wanita itu
mengatakannya dengan mata yang berapi-api.
“Semua perkiraanku tentang dirimu salah. Aku memang bodoh. Sangat bodoh. Kau sama saja dengan
pria brengsek yang berkeliaran di luar sana. Kau pengecut, tidak berani
mengambil resiko atas apa yang
telah kau lakukan” Wanita itu memukuli
dada pria yang wajahnya merah padam karena skak-mat dengan jajaran kalimat yang
baru saja keluar dari mulut wanita itu.
“Ck...
Kalian membuatku
semakin takut jatuh cinta” Pemilik sepasang mata yang sejak tadi
memperhatikan duel pasangan itu akhirnya melenggang masuk ke dalam kamarnya.
Wanita yang menggunakan gaun panjang berwarna peach kesayangannya itu sebenarnya enggan beranjak dari tempatnya
berdiri. Ia masih
ingin merasakan hembusan angin malam yang bisa membuatnya tenang. Tetapi, jika
ia tetap berada disana ia hanya akan mengetahui urusan orang lain. Itu sama
saja lancang menurutnya.
Ayomi. Ungkapan yang akan terucap saat pertama kali
melihat wanita itu adalah sempurna. Postur tubuh yang ideal, wajah yang terukir
sempurna, lekuk tubuh yang indah, senyum yang penuh kehangatan serta semua hal
yang indah ada di dalam diri Ayomi. Ia bukanlah seorang model. Tetapi, wanita itu adalah seorang dokter.
Bukan hanya
kecantikan dan keindahan saja yang Ayomi miliki. Ia juga memiliki kecerdasan
yang tak diragukan lagi. Segudang prestasi yang memuaskan juga memihak padanya.
Ia hanya menghabiskan waktu dua tahun di bangku SMA. Ya, Ayomi adalah salah
satu murid akselerasi sehingga saat usianya masih enam belas tahun statusnya
telah berubah menjadi mahasiswi.
Keinginannnya berbeda dengan kebanyakan remaja
lainnya yang ingin melanjutkan jenjang pendidikan mereka ke luar negeri. Ayomi malah menolak beasiswa untuk kuliah di
Universitas Stanford, Amerika dan ia tetap kukuh pada pendiriannya untuk
berkuliah di Indonesia. Ayahnya hanya dapat meng’iya’kan keinginan putri
semata wayangnya itu. Mungkin, jika ibunya masih
hidup ia pasti akan memberikan keputusan yang sama seperti sang ayah.
Namun, nasib berkata lain. Ibu Ayomi telah berpulang lebih dulu. Ayomi yang saat itu berusia dua
belas tahun hanya menangis dan terus menangis setelah kepergian ibunya.
Meskipun ibunya sudah tak bersama lagi dengannya dan sang ayah namun Ayomi yakin ibunya ada di suatu
tempat yang dapat ia jangkau. Di hati, ia yakin ibunya selalu ada dalam hatinya
dan menyemangati setiap apa yang Ayomi lakukan.
Kreeek...
Ayomi menoleh ke
suara dari arah pintu yang terbuka. Di ambang pintu berwarna merah marun itu
sudah berdiri seorang pria yang rambut hitamnya mulai berubah menjadi rambut
putih. Ayomi paham betul siapa sosok itu. Senyumnya merekah dan matanya
berbinar saat pria paruh baya itu berjalan menghampirinya. Ayomi memutar
sempurna tubuhnya kemudian menghampiri pria paruh baya itu dengan tidak sabar.
“Ayah...” Suara lembutnya
berseru dan sedetik kemudian ia memeluk pria paruh baya yang ia panggil ayah
tadi.
Mereka berpelukan dan
menyalurkan rasa rindu yang sudah terlalu lama mereka pendam. Ayomi menangis
dalam pelukan penuh haru dan bahagia itu. Hampir dua tahun ayah dan anak itu
terpisahkan oleh jarak. Solo dan Perth adalah dua kota yang jaraknya tidaklah
dekat bahkan dua kota tersebut berada dalam benua yang juga berbeda. Waktu
tempuh keduanya pun bukanlah dalam hitungan menit.
Bisa saja bagi Ayomi
ataupun ayahnya, Anggoro Raharjo kepala rumah sakit swasta yang ada di Solo itu
saling mengunjungi satu sama lain. Namun, mengingat betapa penting peran mereka dalam profesi
masing-masing membuat waktu yang mereka miliki sangatlah berharga. Terutama, Ayomi yang saat ini
telah memiliki gelar dokter spesialis jantung.
Ia lebih sibuk
dibanding ayahnya yang notabennya lebih dulu
menyelami dunia yang berhubungan dengan kesehatan itu. Suatu kebanggan untuk
pak Anggoro karena putri semata wayangnya dapat meraih impiannya sejak kecil.
Semua berkat kegigihan Ayomi dan semangatnya yang selalu berkobar sejak ia
berada di sekolah dasar dulu. Satu lagi yang pak Anggoro ingat dari putri
semata wayang nya yaitu ia sangat rajin beribadah. Semua yang diwajibkan oleh
ajaran agamanya selalu ia kerjakan begitu pula yang disunahkan.
“Apa yang kau lakukan selama berada disini
sayang? Kau terlihat semakin gelap” pria paruh baya itu
meledek putrinya.
“Aku semakin indah jika berkulit gelap” balasnya lalu melepaskan pelukan mereka. Ayomi
menyeka air matanya yang membasahi pipi tirusnya sambil menggandeng lengan sang
ayah dan membawanya menuju sofa besar yang ada di dekat ranjang.
“Selamat ulang tahun putriku” Ayomi hanya
tersenyum ketika sang ayah mengecup keningnya. Semenit kemudian, ayah dan anak
perempuan itu duduk bersama diatas sofa dengan ditemani suara gemuruh kembang
api yang menyala-nyala diluar sana. Mereka saling meluapkan rasa rindu mereka
dengan bercerita dan sesekali bergurau.
Ayomi mengerutkan
keningnya bingung ketika sang ayah mengeluarkan amplop coklat dari dalam mantel
yang dipakainya. Sedetik kemudian ayahnya mengeluarkan isi amplop yang ternyata
berisi beberapa lembar kertas foto.
“Siapa itu, yah?” Tanya Ayomi dengan
penasaran saat empat lembar foto itu di letakkan diatas pangkuannya. Ayahnya
hanya menaikan kedua alisnya memberi isyarat pada sang putri untuk melihatnya
sendiri.
“Aku tidak kenal dengan mereka” Ayomi bersuara kembali setelah ia memperhatikan
orang-orang yang ada di lembaran foto itu.
“Ayah akan mengenalkan mereka satu per satu
padamu” Ayomi seolah mengerti
dengan maksud perkataan ayahnya barusan. Ia menyerahkan kembali lembaran foto
itu ke ayahnya.
“Perjodohan?” Tanya Ayomi tegas.
“Lagi?” Sambungnya. Ayahnya
segera berdiri dan memasukkan lembaran foto itu ke dalam amplop lalu
menyimpannya di dalam mantel kulitnya.
“Aku masih kecil. Belum cukup umur, yah” seru Ayomi yang ikut berdiri dan mengambil
posisi di dekat ayahnya.
“Hari ini usiamu sudah genap dua puluh sembilan
tahun, itu bukanlah usia untuk anak kecil lagi” Ayomi mengerucutkan bibirnya lalu membelakangi sang ayah.
“Kau masih bisa
menjadi dokter setelah kau menikah, sayang” kata sang ayah memberi semangat pada putrinya.
“Tapi aku belum mau menikah ayah” Ayomi sedikit merengek.
“Enam tahun kau sudah fokus pada profesi yang kau
geluti. Sekarang saat yang tepat sayang untuk kau menikah” Ayomi menggeleng lemah. Keheningan tiba-tiba
datang dan membuat keduanya bungkam.
Mereka sibuk bergelut
dengan pikiran mereka masing-masing. Pak Anggoro, ayah Ayomi berkutat dengan
pikirannya tentang nasib putrinya yang akan menjadi perawan tua jika sampai
menginjak kepala tiga nanti belum juga memiliki pendamping hidup. Berbeda
dengan Ayomi yang sedang berusaha mengendalikan keegoisannya. Ia tak mungkin
menikah dengan pilihan sang ayah, tetapi ia juga tak mungkin berlama-lama hidup
sendiri tanpa sosok pendamping selain ayahnya.
Menikah. Satu-satunya
phobia yang di derita Ayomi adalah menikah. Menurut Ayomi, phobianya itu mungkin akan sembuh ketika ia menemukan cinta yang
sesungguhnya. Ayomi belum menemukan dan tak berniat mencarinya. Biarkan waktu
yang mengantarkan Ayomi bertemu dengan seorang yang akan menjadi cintanya.
Bukan sekarang, besok atau lusa. Mungkin nanti, jika waktu sudah mengizinkan Ayomi
untuk berdampingan dengan sang pria yang masih menjadi rahasia Tuhan.
“Ayah” Ayomi kembali buka suara. Mendengar panggilan sang
anak, pak Anggoro segera melangkah dan mensejajarkan posisinya di samping Ayomi.
“Aku akan bertanggung jawab dengan semua
keputusanku. Kumohon, jangan paksa aku
untuk menikah dalam waktu dekat” Ayomi merasakan beban dikeduapundaknya. Tangan keriput
sang ayah telah bertengger disana dan membawa tubuh Ayomi untuk melihat
kearahnya. Ayahnya hanya memberikan senyum dan Ayomi mengerti arti senyuman
itu.
“Terimakasih ayah...” Ayomi berhambur ke dalam pelukan
sang ayah.
“Minggu depan kau akan terbang ke Kanada?” Ayomi
hanya megangguk dalam pelukan ayahnya.
Sebenarnya, ayahnya tak bisa membiarkan putri semata
wayangnya itu terlalu lama mengulur waktu untuk menikah. Namun, ia juga tak mungkin memaksakan kehendaknya
untuk menjodohkan Ayomi dengan pria pilihannya. Biarkan Ayomi yang menemukan
kebahagiaannya sendiri. Putri kecilnya yang sudah beranjak dewasa itu pasti tau
apa yang terbaik untuk kehidupannya kelak. Pak Anggoro hanya dapat berdoa dan
berharap supaya Tuhan memberikan yang terbaik untuknya.
Author : Kiki Ningrum
Komentar
Posting Komentar