Langkah
angkuh seorang gadis di sebuah lobi perusahaan ternama di Korea Selatan itu
mendapat perhatian dari beberapa pasang mata yang berpapasan dengannya. Wajah
gadis itu terlihat dingin dan senyum miringnya terkesan mematikan. Dia, tidak
terlihat seperti seorang gadis biasa yang tengah berkunjung ke perusahaan
tersebut.
Tas jinjing
merek ternama yang ia bawa menandakan pada orang banyak jika gadis itu adalah
orang berada. Gadis yang mungkin memiliki harta melimpah hingga ia bisa
memiliki salah satu benda limited edition
di dunia. Gadis itu kemudian meletakan tas jinjingnya di atas meja resepsionis.
“Aku sudah
membuat janji pada atasan kalian, Jung Minseok” Ucap gadis itu dengan
angkuhnya.
“Maaf nona,
untuk saat ini Presdir (Presiden
Direktur) sedang tidak bisa diganggu” Jawab resepsionis itu.
“Baik, aku
akan tetap ke ruangannya” Resepsionis yang baru saja menjawab pertanyaan gadis
itu memicingkan sebelah matanya mendengar jawaban gadis itu.
“Tidak bisa
nona” Ucap resepsionis itu berusaha selembut mungkin.
“Kau sudah
berani mengaturku?” Ucapan gadis itu tak pelak membuat si resepsionis harus
menelan air ludahnya dengan susah payah.
“Apa kau
lupa siapa aku, Shin Jiyeon?” Ucap gadis itu dengan menaikkan dagunya. Gadis
itu berlagak speerti seseorang yang sangat ditakuti disana.
Kacamata
hitam yang bertengger di puncak kepalanya ia lepaskan begitu saja, membuat
beberapa helai rambut panjangnya terlepas dari tali rambut yang ia kenakan. Aura
mengerikan begitu kentara letika gadis itu memberi tatapan yang tajam pada si
resepsionis yang tengah berhadapanan dengannya.
“No...
Nona... Nona muda” Ucap resepsionis yang bernama Shin Jiyeon itu dengan gugup.
Wajahnya berubah menjadi pucat.
“Ternyata
bos-mu sangat mempercayai karyawan sepertimu ya, Shin Jiyeon. Berapa lama kau
bekerja disini? Ah, tunggu biar aku tebak. Kalau tidak salah sudah hampir tujuh
tahun ya? Tubuhmu semakin gempal ya Shin Jiyeon. Apa kau sudah mempunyai anak?”
Ucap gadis itu dengan sedikit mengejek.
“Nona? Nona?
Bukankah anda?” Jiyeon berucap dengan sedikit gemetar. Rasanya sulit sekali
mengeluarkan suaranya. Jiyeon takut dengan gadis itu. Tepatnya, Jiyeon merasa
terkejut dengan keberadaan gadis itu.
“Sudah
mati?” Tanya gadis itu dengan menaikan sebelah alisnya.
“Semua orang
berpikir aku sudah mati? Cih... Kalian yang akan mati dan kalian akan mati di
tanganku” Kalimat yang baru saja keluar dari dalam mulut gadis itu seakan
memberi peringatan pada si resepsionis agar bersiap untuk menghadapi hal buruk
yang akan menimpanya. Jiyeon tersadar dengan siapa ia berhadapan saat ini.
“Permisi,
Jiyeon-ssi” Ucap gadis itu.
Langkah
angkuhnya kembali bergerak, meninggalkan meja resepsionis itu. Meninggalkan
gelenyar aneh pada Jiyeon. Gadis itu berhasil membuat Jiyeon mengeluarkan
keringat dingin dan gemetaran.
“Dia pikir
dirinya siapa bisa melarangku?” Ucap gadis itu entah pada siapa.
Jiyeon diam
mematung. Tak tau apa yang bisa ia perbuat jika nanti atasannya tau dirinya
telah meloloskan gadis itu dan membiarkannya masuk ke dalam ruangan atasannya.
Jiyeon hanya bisa berdoa pada Tuhan dan berharap tidak akan ada kejadian buruk
sebentar lagi.
TAP...
TAP... TAP...
Suara derap
langkah seseorang membuyarkan lamunan Jiyeon. Kedua matanya langsung berpencar
menuju sumber suara itu. Tatapannya terkunci pada satu objek hingga membuat
kedua kelopak matanya hampir lepas. Jiyeon semakin terkejut dan merasa dunia
tempatnya berpijak kini terbagi menjadi dua, dengan ia berada di tengahnya.
Berdiri
seorang gadis yang tengah mengandung di dekat meja resepsionis itu dengan
sebuah kotak yang isinya bisa di tebak, makanan. Kotak makanan itu mengingatkan
Jiyeon jika jam makan siang sudah hampir tiba dan gadis itu adalah istri
atasannya, Nayoung. Jiyeon tau, meski ia baru melihatnya karena dua bulan
terakhir ini ia harus cuti bekerja paska masa melahirkannya.
“Kau pasti
Shin Jiyeon. Senang bisa bertemu denganmu. Jiyeon-ssi, apa Presdir ada di
dalam?” Tanya Nayoung dengan ramah.
“Apakah nona
istri Presdir Jung?” Jiyeon malah balik bertanya dan hanya dijawab dengan
anggukan oleh gadis itu.
“Iya
Jiyeon-ssi, apakah suamiku ada di dalam?”
Jiyeon
memejamkan kedua matanya ketika pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut
Nayoung. Jiyeon kemudian hanya menjawab dengan anggukan kepala terkagok-kagok. Nayoung
hanya tersenyum dan tak menaruh rasa curiga sama sekali pada karyawan suaminya
itu.
“Baiklah,
Jiyeon-ssi. Ah, kudengar kau baru saja melahirkan. Jadi, kubawakan makan siang
untukmu. Aku permisi dulu Jiyeon-ssi” Ucap Nayoung seraya meletakan satu kotak
makan berwarna hijau disana sebelum ia meninggalkan meja resepsionis itu.
“Cantik. Benar-benar cantik! Bukan hanya wajahnya, istri
Presdir juga sangat baik. Selera Presdir yang sekarang sangat luar biasa”
Jiyeon berucap sembari memberi tatapan pada kotak makan yang tadi diletakan
oleh Nayoung di atas meja resepsionis itu.
Semetara itu, Nayoung terus berjalan menuju ruangan suaminya
berada. Pria tampannya itu berada di ruangan paling atas gedung pencakar langit
ini. Nayoung berharap ia bisa kembali mengejutkan suaminya dengan kedatangannya
secara tiba-tiba itu.
“Kau tidak bisa melakukan itu semua”
Nayoung
yang hampir sampai di depan pintu ruangan suaminya itu sedikit terkejut
mendengar suara Minseok yang begitu mematikan. Gadis itu mengedarkan
pandangannya ke sekitar ruangan suaminya dan mendapati beberapa karyawan yang
tengah memasang wajah bingung. Nayoung hanya menaikkan sebelah alisnya dan
berharap akan ada salah satu dari beberapa karyawan itu memberi penjelasan
padanya.
“Selamat
siang, nona. Maaf atas ketidak sopanan kami” Ucap salah satu karyawan tanpa
memberi penjelasan lanjut pada Nayoung.
“Permisi”
Ucap Nayoung sembari melenggang santai memasuki ruangan suaminya. Ia menatap
pintu berwarna putih gading itu dengan memasang raut dinginnya.
“Siapa
lagi yang mengganggu suamiku sekarang?” Tanya Nayoung seraya mendorong pintu
ruangan suaminya itu.
“Kubilang
jangan masuk ke dalam ruanganku!” Bentak Minseok setelah pintu ruangannya
terbuka dan memunculkan sosok gadis mungil berbalut gaun manis dengan corak
bunga-bunga kecil. Gadis itu sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya saat
ini. Tetapi, ia tetap menyembunyikan raut terkejutnya itu dengan tetap memasang
wajah dinginnya.
“Maaf,
aku hanya ingin mengantar makan siang untukmu” Ucap Nayoung dengan ketus. Sudut
matanya megikuti gerak-gerik seorang gadis asing yang tengah berdiri di depan
suaminya. Gadis itu cantik, cantik karena make-up
tebal di wajahnya dan jangan lupakan bentuk tubuh S-line nya. Membuat Nayoung
sedikit iri.
“Sejak
kapan kau punya pengasuh sayang? Apa selama aku meninggalkanmu kau tidak makan
dengan baik?” Nayoung menyipitkan matanya. Tidak suka dengan ucapan gadis itu.
“Keluar dari ruanganku, Haera!” Bentak Minseok dengan suara
yang menggelegar. Hal itu lagi-lagi membuat Nayoung kembali terkejut. Bukan
karena bentakan suaminya. Tetapi, sebuah nama yang terselip dalam kalimat
suaminya barusan.
“Haera?” Tanya Nayoung dengan suara yang sangat lirih.
“Kau takut istrimu tau tentang semua kebohonganmu itu kan?”
Ucap gadis yang bernama Haera itu.
Nayoung mengerjapkan kedua matanya berkali-kali. Gadis itu
berusaha menahan tangisnya agar tak tumpah ruah. Perasaannya tiba-tiba tak
karuan. Perpaduan rasa terkejut, sedih, takut dan gadis itu marah. Nayoung terpukul dengan kenyataan bahwa
suaminya lagi-lagi berbohong padanya.
“Haera? Bukankah, gadis itu sudah meninggal? Suamiku
membohongiku?” Tanya Nayoung dalam hati.
“Aku adalah simpanan suamimu, nona” Bisik Haera tepat di
telinga Nayoung. Gadis itu kemudian tersenyum sinis sebelum meninggalkan Nayoung
yang tengah mati-matian menahan amarahnya.
“Kumohon jangan dengarkan kata-kata wanita jalang itu” Ujar Minseok
seraya berjalan mendekat ke arah Nayoung.
PLAKKK
Sebuah tamparan mendarat mulus di atas pipi kanan Minseok.
Siapa lagi pelakunya kalau bukan sang istri tercinta. Nayoung menunjukan raut
wajah datar pada suaminya. Kedua matanya memerah akibat tangis dan emosinya
yang sejak tadi ia tahan.
“Tutup mulutmu karena kau sama seperti wanita itu. Kau
berbohong lagi padaku. Ini bukan kali pertama Jung Minseok. Kau pernah bilang
jika kau memiliki penyakit jantung yang akut agar bisa menikah denganku dan
sekarang kau berbohong jika sahabatmu sejak kecil, wanita yang bernama Haera
sudah meninggal. Kau senang sekali berbohong padaku” Ucap Nayoung berusaha
tegar.
“Dengarkan aku, sayang”
“Tidak!”
“Biarkan aku menjelaskannya”
“Tidak. Aku tidak mau mendengarnya. Aku membencimu” Nayoung
tak bisa lagi menahan air matanya dan gadis itu akhirnya menyerah. Ia menangis
sejadi-jadinya. Nayoung merasa tak sanggup lagi menerima kenyataan yang selalu
membuatnya tak bisa hidup dengan tenang. Semua itu karena suaminya.
“Duduk dan dengarkan aku” Suara Minseok berubah menjadi
sangat tegas dan membuat Nayoung tersentak.
Tangan kanan pria itu membawa tubuh Nayoung ke sofa yang ada
di sudut ruangan itu. Nayoung hanya bisa menurutinya. Gadis itu ikut terduduk
disana. Tidak mau duduk berdekatan dengan Minseok, Nayoung memberikan jarak di
antara keduanya. Wajahnya tertunduk sejak tadi.
“Aku, sunggu maafkan aku Youngie-ah. Aku tidak pernah tau
jika semua akan terjadi lagi. Aku jahat. Aku membawamu ke dalam hidupku dan
menyakitimu. Maafkan aku, Youngie-ah” Ucap Minseok dengan intonasi yang
melemah.
“Apakah Haera bisa hidup kembali?” Pertanyaan Nayoung
barusan terdengar seperti sebuah sindiran untuk Minseok.
“Bisa karena Haera tidak pernah meninggalkan dunia ini. Aku
menyembunyikannya dari keluargaku. Semua yang kuceritakan dan semua yang
terjadi padaku selama ini hanyalah kebohongan. Dia bukan sahabatku. Dia
kekasihku sejak kami duduk di bangku sekolah” Nayoung menolehkan wajahnya, ia
terkejut.
“Aku tau eomma sangat membenci Haera. Tetapi, aku sangat
mencintainya. Aku melakukan semua ini karena aku sangat mencintai Haera” Hati Nayoung
memanas. Tubuhnya terasa lemah karena ucapan Minseok barusan.
“Aku sudah berkeluarga, Nayoung. Aku dan Haera. Aku telah
membohongi kalian semua. Aku, aku hanya menjadikan dirimu alat agar eomma tak
terus menerus memintaku berpisah dengan Haera” Sistem saraf dalam tubuh gadis
itu perlahan tak berfugsi. Nayoung terperangah dengan ucapan Minseok barusan.
Dirinya hanya dijadikan alat oleh pria itu.
“Maafkan aku, maafkan aku Nayoung” Ucap Minseok dengan penuh
harap.
“Kau tidak perlu khawatir. Aku akan tetap menjadi suamimu
dan ayah untuk anak yang ada dalam kandunganmu, selama...”
“Cih... Aku akan memintamu untuk menceraikanku sekarang
juga” Dengan cepat Nayoung mengucapkannya. Gadis itu tak berpikir dua kali
untuk mengolah ucapannya barusan. Nayoung bangkit dari sofa itu dan berdiri di
depan Minseok dengan wajah yang diselimuti kabut amarah.
“Tidak bisa, Nayoung”
“Kenapa tidak? Buktinya kau bisa mendapatkan apa yang
inginkan. Termasuk aku untuk kau peralat. Aku tidak bisa bertahan lebih lama
lagi denganmu, dengan pria jahat sepertimu”
“Bisa sayang”
“Jangan memanggilku seakan-akan kau tulus menyayangiku, tuan
Jung”
“Aku ingin berpisah darimu” Ucap Nayoung dengan emosinya
yang sudah meletup. Gadis itu menatap Minseok dengan marah. Tetapi, dibalik
manik matanya tersimpan rasa sakit dan tak tega untuk meminta pisah dengan pria
itu. Nayoung sudah mencintai pria itu, sejak mereka berdua berdiri di atas
altar satu tahun yang lalu.
“Aku memang akan berpisah. Tetapi, bukan denganmu”
Nayoung memicingkan sebelah matanya. Gadis itu tak mengerti
dengan apa yang ada dalam pikiran Minseok saat ini. Pria itu membuat dirinya
hampir mati kebingungan. Nayoung kemudian memijat pelipisnya ketika rasa pening
menderanya. Perutnya tiba-tiba keram dan Nayoung merasa keringat dingin mulai
keluar dari dalam pori-porinya.
“Besok aku akan menceraikan Haera” Ucap Minseok dengan
tegas. Pria itu kemudian berdiri. Kedua tangannya menangkap dua tangan mungil
Nayoung yang tengah basah oleh keringat dinginnya. Tetapi, Nayoung menepisnya.
Kedua matanya hanya memberi pandangan kosong pada pria itu.
“Jangan pernah meminta pisah dariku. Maafkan aku Nayoung.
Maafkan masa laluku. Aku salah membawamu ke dalam semua masalahku dan aku
merasa telah terjebak dengan semua ini. Aku mencintaimu dan aku sadar Haera
hanya masa laluku”
“Haera juga sudah menemukan kebahagiaannya sendiri. Kami
sepakat mengakhiri ini semua dan memulai hal baru dengan pasangan kami
masing-masing”
“Tapi aku bukan pasanganmu” Bantah Nayoung dengan suara yang
melemah.
“Aku tetap mempertahankanmu”
“Kau keterlaluan. Kau tidak bisa seenaknya, tuan Jung”
“Aku tetap mencintaimu”
“Kau pikir kau siapa, hah? Kau pikir kau siapa bisa
mengaturku? Kau sudah sering membohongiku. Kau sudah membuatku seperti menjadi
gadis yang bodoh. Kau jahat. Kau jahat, Jung Minseok” Nayoung menjerit,
berteriak memaki pria yang ada di depannya. Gadis itu meluapkan apa yang ada
dalam hatinya saat ini. Membagi rasa sakitnya pada suaminya itu.
“Aku membencimu” Nayoung memukuli dada bidang suaminya
dengan tangis yang terdengar memilukan. Nayoung mengucapkan kalimatnya barusan
berkali-kali.
“Aku membencimu yang telah membuatku mencintaimu. Aku benci
padamu karena kau membohongiku. Tetapi, ketahuilah aku lebih benci pada diriku
yang tak bisa hadir lebih dulu sebelum Haera” Ucap Nayoung dalam hati.
“Akh” Pekik Nayoung tiba-tiba. Kedua tangan gadis itu
kemudian bertengger di atas perut setengah buncitnya. Wajahnya berubah pucat.
Keringat dingin membanjiri wajah cantik gadis itu.
“Ya Tuhan, aku berharap ini hanya mimpi dan ketika besok aku
terbangun smeua tidaklah sama” Doa Nyaoung dalam hati.
Minseok yang melihat keadaan Nayoung saat ini mendadak
panik. Pria itu tak hampir kena serangan jantung ketika melihat betis sebelah
kanan Nayoung dilewati darah yang merembes dari dalam sana. Secepat kilat,
Minseok menggendong tubuh istrinya dan membawa Nayoung ke rumah sakit.
Tak peduli dengan omelan dan cacian yang keluar dari bibir
Nayoung. Minseok tak ambil pusing jika nanti para karyawan mendengar seperti
apa dirinya dari umpatan-umpatan yang Nayoung lontarkan. Sekarang, yang ada
dalam pikirannya hanya keselamatan Nayoung dan juga bayi yang ada dalam
kandungannya.
Author : Kiki Ningrum
Komentar
Posting Komentar