Langsung ke konten utama

Candy


Senyum terus terukir di wajah Keisha ketika berhasil mencuri pandang pada objek yang ada di dekatnya. Gadis itu berhasil melirik wajah seorang pemuda yang duduk di sampingnya. Pemuda yang seumuran dengannya itu terlihat tenang. Wajah pemuda itu bagaikan candu untuk Keisha. Sehari saja gadis itu tak melihatnya, dirinya akan dilanda rasa rindu yang bisa memecah konsentrasinya.
“Semakin hari aku merasa kau semakin tampan saja” Ucap Keisha dalam hati.
“Kei, kau mau ke kantin?” Tanya seseorang tiba-tiba, memecah lamunan Keisha dan berhasil membuat gadis berambut pendek itu hampir saja ketahuan tengah memperhatikan pemuda yang ada di sampingnya. Kepalanya langsung bergerak, mengarah pada langit-langit kelas ketika pemuda itu hendak menolehkan wajahnya.
“Ah, kemana perginya permen yang bisa terbang itu?” Ucap Keisha dengan spontan. Gadis itu sebenarnya tak tau apa maksud dari kalimat yang baru saja terlontar dari dalam mulutnya.
“Terdengar bodoh, apa yang kau maksud dengan permen terbang? Apa ini yang kau maksud?” Tanya seseorang tadi yang berhasil membuat Keisha hampir tertangkap basah tengah memperhatikan pemuda ‘tampan’ yang duduk di sebelahnya. Tangan kanan orang itu disodorkan ke depan wajah Keisha dan menunjukkan sebuah permen yang terbungkus plastik berwarna biru tua. Permen itu berbentuk bulat, tercetak dari plastik yang membungkusnya.
Keisha menganggukan kepalanya. Satu tangannya terangkat untuk menggaruk puncak kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Keisha sedikit merasa malu dengan realitanya. Bungkusan permen itu berwarna biru tua bukan merah muda. Gadis itu tak bisa memberikan alasan yang lebih logis pada lawan bicaranya. Tepatnya, pada pemuda itu secara tidak langsung. Memalukan.
“Sejak kapan kau jadi rabun warna  begini?”
“Aku tidak rabun, lidahku sedikit terbelit ketika berucap tadi”
“Kau tidak pandai mengelak, Kei”
“Aku kalah, Mia”
Seseorang tadi bernama Mia, teman dekat Keisha di sekolah itu. Mia terkekeh geli melihat gurat kesal di wajah Keisha. Keduanya sudah lama berteman karena dua tahun ke belakang selalu berada dalam kelas yang sama. Tetapi, tahun ini harus mereka terpisah. Pembagian kelas tahun ini menggunakan sistem kocok. Tidak seperti tahun lalu yang menerapkan sistem urutan absen, genap dengan genap, ganjil dengan ganjil.
 “Kei, tadi pagi aku diberi sekotak permen oleh tanteku. Ini aku akan membaginya untukmu” Mia langsung merogoh saku seragam biru tua yang ia kenakan lalu mengeluarkan lima butir permen dengan bungkus warna-warni dari dalamnya.
“Wah... Kau selalu tau aku menyukai ‘si manis’ ini” Keisha langsung menyambarnya.
“Kau belum berterimakasih tapi sudah mengambilnya. Tidak sopan”
“Aku meninggalkan kotak makanku dan permenku ada di dalamnya”
“Boleh aku meminta permen itu?” Sebuah suara berat memecah percakapan kedua gadis itu. Keisha dan Mia terdiam sejenak sebelum membawa arah pandang mereka ke asal suara itu. Keisha dengan susah payah menelan air ludahnya ketika dihadapkan oleh wajah pemuda yang tadi ia perhatikan dengan jarak yang begitu dekat.
“Maaf, Rey. Aku hanya membawa sedikit. Lain kali, aku akan membawakan permen untukmu” Jawab Mia dengan seadanya.
“Untukmu” Ucap Keisha ragu. Tangan kanannya ia sodorkan ke arah pemuda yang diduga bernama Rey. Pemuda itu kemudian tersenyum dan mengambil dalah satu dari lima permen yang ada di atas telapak tangan Keisha.
“Terimakasih, Kei. Kau sangat cantik hari ini” Setelah mengucapkannya, Rey langsung bangkit dari kursinya dan meninggalkan kedua gadis itu di dalam kelas yang mulai sepi.
“Dia bilang aku cantik? Apa aku bermimpi?” Tanya Keisha dalam hati.
“Ya, kau memang cantik. Sudahlah, ayo kita makan. Bel sebentar lagi berbunyi dan aku tidak mau ketika pelajaran ekonomi nanti tidak bisa berpikir” Cecar Mia dengan suara nyaring khas-nya.
Keisha akhirnya menyudahi alur pikirannya mengenai ucapan Rey barusan. Gadis itu kemudian bangun dari kursi kayunya. Kedua tangannya memelorotkan rok seragam yang sudah kependekan itu. Keisha melangkah, berjalan berdampingan dengan Mia untuk meninggalkan kelas itu.
“Kau tau tidak?” Tanya Mia tiba-tiba.
“Apa?” Jawab Keisha.
“Clara sudah punya kekasih, makanya dia jarang sekali pergi ke kantin denganku”
“Lalu kau mengajakku? Menjadikan sahabatmu ini pelampiasan?”
“Hahaha... Kau lucu sekali. Mana mungkin aku seperti itu. Lagipula kau selalu membawa bekal dari rumah dan kau jarang sekali ke kantin. Aku tau itu dan aku tak melupakan kebiasaanmu itu, Kei”
Gadis yang bernama Keisha itu hanya memamerkan deretan gigi yang warnanya tak putih sempurna. Mia kemudian mendnegus, mendapati respon kawannya itu. Keisha selalu seperti itu jika Mia mulai membicarakan teman sebangkunya selama empat bulan ini. Keisha kurang menyukai gadis bernama Clara itu.
“Kau masih marah padanya?” Pertanyaan Mia barusan hanya ditanggapi dengan gerakan kedua bahu Keisha.
Keisha mengambil posisi duduk di sebuah kursi kayu memanjang yang ada di luar kantin sekolahnya. Kursi kayu itu berada di antara dua pohon besar, pohon mapel. Mia kemudian menjatuhkan bokongnya di kursi yang sama dengan Keisha. Duduk bersebelahan dengan kawannya.
“Kau tidak mau pesan makanan atau minuman?” Keisha hanya menggelengkan kepalanya ketika diberi pertanyaan oleh Mia barusan.
“Ayolah, Clara sudah meminta maaf padamu. Jangan terus bermusuhan”
“Aku tidak memusuhi Clara”
“Tapi, kau masih kesal padanya”
“Mia, kau tau kan? Siapa yang memulainya?”
Mia seketika terdiam. Kembali otaknya mencari-cari kenangan pahit yang pernah terjadi diantara Keisha dan juga Clara. Setelah menemukannya, Mia hanya mendengus. Ia yakin kejadian itu tak mungkin mudah dilupakan untuk Keisha.
“Dia sendiri yang bilang aku seperti permen karet pada Moren, kekasihnya. Kau menempel terus dan mengikuti setiap pergerakan Moren. Padahal, Moren adalah sepupu-ku. Kami sudah hidup bersama selama dua belas tahun” Ucap Keisha tiba-tiba. Terlihat gurat kesedihan di wajah gadis itu.
“Dia sudah mempermalukanku di depan teman-teman satu batch kita. Bahkan, senior kita tau” Sambungnya dengan menggigit bibir bawahnya.
Keisha sudah tak mampu lagi membayangkan kejadian satu tahun lalu itu. Dirinya merasa seperti gadis murahan di depan teman-teman satu sekolahnya. Clara keterlaluan, gadis itu mengolok sahabatnya sendiri. Menuduh Keisha menggoda dan merebut Moren darinya.
“Gadis permen karet! Kau keterlaluan! Kau menjijikan! Kau perebut kekasih orang! Lihat! Semua lihat kesini! Gadis ini, sahabatku sendiri telah merebut kekasihku. Dia menggodanya, dia selalu berdekatan dengan kekasihku” Ucapan itu memutari pikiran Keisha. Kata-kata yang dikeluarkan begitu saja dari mulut Clara di depan banyak murid sekolahnya selepas mereka istirahat.
Keisha sangat malu saat itu. Ia tak membela diri saat itu karena tak ingin Clara malu akan ucapannya itu. Keisha juga tidak ingin murid satu sekolahnya mengecap Clara sebagai gadis yang arogan.
Sebenarnya, tanpa adanya kejadian itu Clara memang sudah diberi cap gadis yang arogan oleh banyak murid di sekolahnya. Clara memang gadis yang cantik. Sudah cantik, cerdas, kaya pula. Ayahnya adalah pemilik sekolah itu. Tetapi, Clara begitu angkuh dan tak pernah mau bersentuhan dengan teman-temannya yang berasal dari golongan yang berbeda dengannya. Dengan kata lain, ia tak mau berteman dengan orang yang tidak berharta seperti dirinya.
Satu lagi sifat buruk gadis itu, Clara suka bergonta-ganti pasangan. Murid dari satu sekolahnya ataupun dari luar sekolahnya, Clara tak pernah sendiri. Ia selalu memiliki pasangan. Mungkin sudah puluhan laki-laki yang menjadi kekasihnya karena setiap satu bulan sekali pasangan selalu berubah.
BRAAAKKK...
“Biadab!” Gertakan seorang murid laki-laki dari arah kantin membuat Keisha dan juga Mia terlonjak kaget. Kedua gadis itu saling bertatapan. Saling mencari tau informasi tentang kejadian barusan.
“Kita harus menjadi penonton disana” Ajak Mia. Gadis itu berdiri dari duduknya dan tangan sebelah kanannya menarik lengan kiri Keisha.
“Ya, ya, ya” Keisha hanya meng’iya’kan keinginan Mia. Menuruti ucapan gadis itu dengan raut wajah tidak iklas. Keisha malas mengurusi urusan orang.
“Dasar gadis permen karet! Dengan semua laki-laki kau selalu menempel! Menjjikan! Aku menyesal pernah menjadi kekasihmu. Kau tau? Kau tidak lebih dari gadis manja, arogan dan tidak tau malu. Aku menyesal telah mengenalmu, Clara!” Bentak murid laki-laki itu.
“Rey?” Gumam Keisha pelan ketika kedua matanya mendapati objek ‘si tampan’ di depan sana. Murid laki-laki itu terlihat marah dan tangan kanannya mengacung ke wajah Clara.
“Astaga! Jadi, Rey adalah kekasihnya yang sekarang?” Mia bersuara nyaring, membuat beberapa murid yang berada di dekatnya mendecak kesal.
“Kau? Kau.. tak tau apa yang terjadi, Rey. Aku tidak berselingkuh. Sungguh, aku tidak pernah berselingkuh” Jelas Clara dengan suara yang bergetar.
“Apa? Tidak berselingkuh? Lalu, kemarin sore siapa gadis yang bergandengan tangan dengan Miko? Aku tidak rabun, nona. Aku mengenalimu” Ucap Rey dengan tegas.
Suasana kantin semakin ramai. Terutama di sudut kantin tempat Clara dan Rey berada. Banyak murid yang mengerubungi mereka. Tak sedikit yang mengabadikan momen itu dengan kamera dari ponsel masing-masing.
“Tapi, Rey. Miko hanya mengantarku saja. Dia hanya menemaniku makan”
“Iya, menemanimu sekaligus menjadi selingkuhanmu. Sudahlah, aku muak dengan tingkahmu. Kita berakhir!”
“Aku tidak selingkuh, Rey”
“Aku melihatnya dan Miko juga sudah bercerita padaku. Kau ini memang gadis permen karet, ya? Dengan laki-laki manapun kau menempel. Gadis genit”
“Gadis permen karet? Rey bilang dia gadis permen karet?” Tanya Keisha dalam hati.
“Aku tidak ada hunungan apa-apa dengan Miko. Percayalah”
“Tidak! Kita berakhir” Tegas Rey dengan raut wajah yang mulai tenang. Tidak seperti pertama tadi. Murid laki-laki itu langsung beranjak dari tempatnya. Meninggalkan Clara di kantin dengan semua rasa malu yang membuncah.
Rey lewat di hadapan Keisha dan juga Mia. Ia memberikan tatapan teduhnya pada Keisha. Seulas senyum tipis tercetak begitu saja. Rey memberikan senyumnya pada Keisha. Melemahkan sistem peredaran darah gadis itu. Keisha merasa salah tingkah.
“Ya Tuhan! Dia tersenyum padaku. Tampan sekali ‘si tampan’ itu” Keisha menundukkan wajahnya. Tersenyum lebar. Gadis itu kegirangan karena baru saja mendapatkan senyuman dari ‘si tampan’ nya itu.
 “Ternyata semua bisa berbalik, ya?” Ucapan Mia barusan membuat Keisha mendongakkan wajahnya. Menaikkan salah satu alisnya.
“Iya, dulu Clara pernah mengataimu ‘gadis permen karet’ sekarang dia yang dikatai ‘gadis permen karet’ oleh kekasihnya sendiri” Mia mengucapkannya sembari menahan tawa.
“Di dunia ini semua hal memang bisa berbalik. Tergantung bagaimana sikap orang itu di masa lalu” Ucap Rey yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Mia. Tatapan Keisha terkunci pada wajah ‘si tampan’ itu. Mia kemudian membalikkan tubuhnya dan mendapati Rey sudah berdiri di belakangnya.
“Sedang apa kau disini?” Tanya Mia tanpa basa-basi.
“Mau makan bersama?” Tawarnya pada dua gadis itu.
“Sebentar lagi bel masuk berbunyi”
“Ekonomi jam kosong”
“Serius?”
“Aku tidak berbohong”
“Ya, kita makan bersama”
“Kei, kau mau ikut makan bersama?” Tanya Rey dengan menatap intens kedua manik mata gadis yang tengah menatapnya tak berkedip itu.
“A... A... Aku” Jawab Keisha tergagap.
“Ya Tuhan! Sekarang bahkan dia mengajakku makan bersama. Uuu... senangnya” Ucap gadis itu dalam hati. Senyumnya perlahan mengembang. Gadis itu dengan ragu menganggukkan kepalanya dan mulai berjalan beriringan di sebelah Rey.

“Aku tak pernah menyangka bisa sedekat ini dengan ‘si tampan’. Dia bahkan mengajakku makan bersama” Gumammnya dalam hati. Keisha kelewat senang hingga ia melupakan keberadaan Mia yang saat ini tak terlihat di sekitaran kantin itu. Entahlah, mungkin Mia sedang ke toilet.

Author : Kiki Ningrum 

Komentar