Senyum
terus terukir di wajah Keisha ketika berhasil mencuri pandang pada objek yang
ada di dekatnya. Gadis itu berhasil melirik wajah seorang pemuda yang duduk di
sampingnya. Pemuda yang seumuran dengannya itu terlihat tenang. Wajah pemuda
itu bagaikan candu untuk Keisha. Sehari saja gadis itu tak melihatnya, dirinya
akan dilanda rasa rindu yang bisa memecah konsentrasinya.
“Semakin
hari aku merasa kau semakin tampan saja” Ucap Keisha dalam hati.
“Kei,
kau mau ke kantin?” Tanya seseorang tiba-tiba, memecah lamunan Keisha dan
berhasil membuat gadis berambut pendek itu hampir saja ketahuan tengah
memperhatikan pemuda yang ada di sampingnya. Kepalanya langsung bergerak,
mengarah pada langit-langit kelas ketika pemuda itu hendak menolehkan wajahnya.
“Ah,
kemana perginya permen yang bisa terbang itu?” Ucap Keisha dengan spontan.
Gadis itu sebenarnya tak tau apa maksud dari kalimat yang baru saja terlontar
dari dalam mulutnya.
“Terdengar
bodoh, apa yang kau maksud dengan permen terbang? Apa ini yang kau maksud?”
Tanya seseorang tadi yang berhasil membuat Keisha hampir tertangkap basah
tengah memperhatikan pemuda ‘tampan’ yang duduk di sebelahnya. Tangan kanan
orang itu disodorkan ke depan wajah Keisha dan menunjukkan sebuah permen yang
terbungkus plastik berwarna biru tua. Permen itu berbentuk bulat, tercetak dari
plastik yang membungkusnya.
Keisha
menganggukan kepalanya. Satu tangannya terangkat untuk menggaruk puncak
kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Keisha sedikit merasa malu dengan
realitanya. Bungkusan permen itu berwarna biru tua bukan merah muda. Gadis itu
tak bisa memberikan alasan yang lebih logis pada lawan bicaranya. Tepatnya,
pada pemuda itu secara tidak langsung. Memalukan.
“Sejak
kapan kau jadi rabun warna begini?”
“Aku
tidak rabun, lidahku sedikit terbelit ketika berucap tadi”
“Kau
tidak pandai mengelak, Kei”
“Aku
kalah, Mia”
Seseorang
tadi bernama Mia, teman dekat Keisha di sekolah itu. Mia terkekeh geli melihat
gurat kesal di wajah Keisha. Keduanya sudah lama berteman karena dua tahun ke
belakang selalu berada dalam kelas yang sama. Tetapi, tahun ini harus mereka terpisah.
Pembagian kelas tahun ini menggunakan sistem kocok. Tidak seperti tahun lalu
yang menerapkan sistem urutan absen, genap dengan genap, ganjil dengan ganjil.
“Kei, tadi pagi aku diberi sekotak permen oleh
tanteku. Ini aku akan membaginya untukmu” Mia langsung merogoh saku seragam
biru tua yang ia kenakan lalu mengeluarkan lima butir permen dengan bungkus
warna-warni dari dalamnya.
“Wah...
Kau selalu tau aku menyukai ‘si manis’ ini” Keisha langsung menyambarnya.
“Kau
belum berterimakasih tapi sudah mengambilnya. Tidak sopan”
“Aku
meninggalkan kotak makanku dan permenku ada di dalamnya”
“Boleh
aku meminta permen itu?” Sebuah suara berat memecah percakapan kedua gadis itu.
Keisha dan Mia terdiam sejenak sebelum membawa arah pandang mereka ke asal
suara itu. Keisha dengan susah payah menelan air ludahnya ketika dihadapkan
oleh wajah pemuda yang tadi ia perhatikan dengan jarak yang begitu dekat.
“Maaf,
Rey. Aku hanya membawa sedikit. Lain kali, aku akan membawakan permen untukmu”
Jawab Mia dengan seadanya.
“Untukmu”
Ucap Keisha ragu. Tangan kanannya ia sodorkan ke arah pemuda yang diduga
bernama Rey. Pemuda itu kemudian tersenyum dan mengambil dalah satu dari lima
permen yang ada di atas telapak tangan Keisha.
“Terimakasih,
Kei. Kau sangat cantik hari ini” Setelah mengucapkannya, Rey langsung bangkit
dari kursinya dan meninggalkan kedua gadis itu di dalam kelas yang mulai sepi.
“Dia
bilang aku cantik? Apa aku bermimpi?” Tanya Keisha dalam hati.
“Ya,
kau memang cantik. Sudahlah, ayo kita makan. Bel sebentar lagi berbunyi dan aku
tidak mau ketika pelajaran ekonomi nanti tidak bisa berpikir” Cecar Mia dengan
suara nyaring khas-nya.
Keisha
akhirnya menyudahi alur pikirannya mengenai ucapan Rey barusan. Gadis itu
kemudian bangun dari kursi kayunya. Kedua tangannya memelorotkan rok seragam
yang sudah kependekan itu. Keisha melangkah, berjalan berdampingan dengan Mia
untuk meninggalkan kelas itu.
“Kau
tau tidak?” Tanya Mia tiba-tiba.
“Apa?”
Jawab Keisha.
“Clara
sudah punya kekasih, makanya dia jarang sekali pergi ke kantin denganku”
“Lalu
kau mengajakku? Menjadikan sahabatmu ini pelampiasan?”
“Hahaha...
Kau lucu sekali. Mana mungkin aku seperti itu. Lagipula kau selalu membawa
bekal dari rumah dan kau jarang sekali ke kantin. Aku tau itu dan aku tak
melupakan kebiasaanmu itu, Kei”
Gadis
yang bernama Keisha itu hanya memamerkan deretan gigi yang warnanya tak putih sempurna.
Mia kemudian mendnegus, mendapati respon kawannya itu. Keisha selalu seperti
itu jika Mia mulai membicarakan teman sebangkunya selama empat bulan ini. Keisha
kurang menyukai gadis bernama Clara itu.
“Kau
masih marah padanya?” Pertanyaan Mia barusan hanya ditanggapi dengan gerakan
kedua bahu Keisha.
Keisha
mengambil posisi duduk di sebuah kursi kayu memanjang yang ada di luar kantin
sekolahnya. Kursi kayu itu berada di antara dua pohon besar, pohon mapel. Mia
kemudian menjatuhkan bokongnya di kursi yang sama dengan Keisha. Duduk
bersebelahan dengan kawannya.
“Kau
tidak mau pesan makanan atau minuman?” Keisha hanya menggelengkan kepalanya
ketika diberi pertanyaan oleh Mia barusan.
“Ayolah,
Clara sudah meminta maaf padamu. Jangan terus bermusuhan”
“Aku
tidak memusuhi Clara”
“Tapi,
kau masih kesal padanya”
“Mia,
kau tau kan? Siapa yang memulainya?”
Mia
seketika terdiam. Kembali otaknya mencari-cari kenangan pahit yang pernah
terjadi diantara Keisha dan juga Clara. Setelah menemukannya, Mia hanya mendengus.
Ia yakin kejadian itu tak mungkin mudah dilupakan untuk Keisha.
“Dia
sendiri yang bilang aku seperti permen karet pada Moren, kekasihnya. Kau
menempel terus dan mengikuti setiap pergerakan Moren. Padahal, Moren adalah
sepupu-ku. Kami sudah hidup bersama selama dua belas tahun” Ucap Keisha
tiba-tiba. Terlihat gurat kesedihan di wajah gadis itu.
“Dia
sudah mempermalukanku di depan teman-teman satu batch kita. Bahkan, senior kita tau” Sambungnya dengan menggigit
bibir bawahnya.
Keisha
sudah tak mampu lagi membayangkan kejadian satu tahun lalu itu. Dirinya merasa
seperti gadis murahan di depan teman-teman satu sekolahnya. Clara keterlaluan,
gadis itu mengolok sahabatnya sendiri. Menuduh Keisha menggoda dan merebut
Moren darinya.
“Gadis
permen karet! Kau keterlaluan! Kau menjijikan! Kau perebut kekasih orang!
Lihat! Semua lihat kesini! Gadis ini, sahabatku sendiri telah merebut
kekasihku. Dia menggodanya, dia selalu berdekatan dengan kekasihku” Ucapan itu
memutari pikiran Keisha. Kata-kata yang dikeluarkan begitu saja dari mulut
Clara di depan banyak murid sekolahnya selepas mereka istirahat.
Keisha
sangat malu saat itu. Ia tak membela diri saat itu karena tak ingin Clara malu
akan ucapannya itu. Keisha juga tidak ingin murid satu sekolahnya mengecap
Clara sebagai gadis yang arogan.
Sebenarnya,
tanpa adanya kejadian itu Clara memang sudah diberi cap gadis yang arogan oleh
banyak murid di sekolahnya. Clara memang gadis yang cantik. Sudah cantik,
cerdas, kaya pula. Ayahnya adalah pemilik sekolah itu. Tetapi, Clara begitu
angkuh dan tak pernah mau bersentuhan dengan teman-temannya yang berasal dari
golongan yang berbeda dengannya. Dengan kata lain, ia tak mau berteman dengan
orang yang tidak berharta seperti dirinya.
Satu
lagi sifat buruk gadis itu, Clara suka bergonta-ganti pasangan. Murid dari satu
sekolahnya ataupun dari luar sekolahnya, Clara tak pernah sendiri. Ia selalu
memiliki pasangan. Mungkin sudah puluhan laki-laki yang menjadi kekasihnya
karena setiap satu bulan sekali pasangan selalu berubah.
BRAAAKKK...
“Biadab!”
Gertakan seorang murid laki-laki dari arah kantin membuat Keisha dan juga Mia
terlonjak kaget. Kedua gadis itu saling bertatapan. Saling mencari tau
informasi tentang kejadian barusan.
“Kita
harus menjadi penonton disana” Ajak Mia. Gadis itu berdiri dari duduknya dan
tangan sebelah kanannya menarik lengan kiri Keisha.
“Ya,
ya, ya” Keisha hanya meng’iya’kan keinginan Mia. Menuruti ucapan gadis itu
dengan raut wajah tidak iklas. Keisha malas mengurusi urusan orang.
“Dasar
gadis permen karet! Dengan semua laki-laki kau selalu menempel! Menjjikan! Aku
menyesal pernah menjadi kekasihmu. Kau tau? Kau tidak lebih dari gadis manja,
arogan dan tidak tau malu. Aku menyesal telah mengenalmu, Clara!” Bentak murid
laki-laki itu.
“Rey?”
Gumam Keisha pelan ketika kedua matanya mendapati objek ‘si tampan’ di depan
sana. Murid laki-laki itu terlihat marah dan tangan kanannya mengacung ke wajah
Clara.
“Astaga!
Jadi, Rey adalah kekasihnya yang sekarang?” Mia bersuara nyaring, membuat
beberapa murid yang berada di dekatnya mendecak kesal.
“Kau?
Kau.. tak tau apa yang terjadi, Rey. Aku tidak berselingkuh. Sungguh, aku tidak
pernah berselingkuh” Jelas Clara dengan suara yang bergetar.
“Apa?
Tidak berselingkuh? Lalu, kemarin sore siapa gadis yang bergandengan tangan
dengan Miko? Aku tidak rabun, nona. Aku mengenalimu” Ucap Rey dengan tegas.
Suasana
kantin semakin ramai. Terutama di sudut kantin tempat Clara dan Rey berada.
Banyak murid yang mengerubungi mereka. Tak sedikit yang mengabadikan momen itu
dengan kamera dari ponsel masing-masing.
“Tapi,
Rey. Miko hanya mengantarku saja. Dia hanya menemaniku makan”
“Iya,
menemanimu sekaligus menjadi selingkuhanmu. Sudahlah, aku muak dengan
tingkahmu. Kita berakhir!”
“Aku
tidak selingkuh, Rey”
“Aku
melihatnya dan Miko juga sudah bercerita padaku. Kau ini memang gadis permen
karet, ya? Dengan laki-laki manapun kau menempel. Gadis genit”
“Gadis
permen karet? Rey bilang dia gadis permen karet?” Tanya Keisha dalam hati.
“Aku
tidak ada hunungan apa-apa dengan Miko. Percayalah”
“Tidak!
Kita berakhir” Tegas Rey dengan raut wajah yang mulai tenang. Tidak seperti
pertama tadi. Murid laki-laki itu langsung beranjak dari tempatnya.
Meninggalkan Clara di kantin dengan semua rasa malu yang membuncah.
Rey
lewat di hadapan Keisha dan juga Mia. Ia memberikan tatapan teduhnya pada
Keisha. Seulas senyum tipis tercetak begitu saja. Rey memberikan senyumnya pada
Keisha. Melemahkan sistem peredaran darah gadis itu. Keisha merasa salah
tingkah.
“Ya
Tuhan! Dia tersenyum padaku. Tampan sekali ‘si tampan’ itu” Keisha menundukkan
wajahnya. Tersenyum lebar. Gadis itu kegirangan karena baru saja mendapatkan
senyuman dari ‘si tampan’ nya itu.
“Ternyata semua bisa berbalik, ya?” Ucapan Mia
barusan membuat Keisha mendongakkan wajahnya. Menaikkan salah satu alisnya.
“Iya,
dulu Clara pernah mengataimu ‘gadis permen karet’ sekarang dia yang dikatai
‘gadis permen karet’ oleh kekasihnya sendiri” Mia mengucapkannya sembari
menahan tawa.
“Di
dunia ini semua hal memang bisa berbalik. Tergantung bagaimana sikap orang itu
di masa lalu” Ucap Rey yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Mia. Tatapan
Keisha terkunci pada wajah ‘si tampan’ itu. Mia kemudian membalikkan tubuhnya
dan mendapati Rey sudah berdiri di belakangnya.
“Sedang
apa kau disini?” Tanya Mia tanpa basa-basi.
“Mau
makan bersama?” Tawarnya pada dua gadis itu.
“Sebentar
lagi bel masuk berbunyi”
“Ekonomi
jam kosong”
“Serius?”
“Aku
tidak berbohong”
“Ya,
kita makan bersama”
“Kei,
kau mau ikut makan bersama?” Tanya Rey dengan menatap intens kedua manik mata
gadis yang tengah menatapnya tak berkedip itu.
“A...
A... Aku” Jawab Keisha tergagap.
“Ya
Tuhan! Sekarang bahkan dia mengajakku makan bersama. Uuu... senangnya” Ucap
gadis itu dalam hati. Senyumnya perlahan mengembang. Gadis itu dengan ragu
menganggukkan kepalanya dan mulai berjalan beriringan di sebelah Rey.
“Aku
tak pernah menyangka bisa sedekat ini dengan ‘si tampan’. Dia bahkan mengajakku
makan bersama” Gumammnya dalam hati. Keisha kelewat senang hingga ia melupakan
keberadaan Mia yang saat ini tak terlihat di sekitaran kantin itu. Entahlah,
mungkin Mia sedang ke toilet.
Author : Kiki Ningrum
Komentar
Posting Komentar