Langsung ke konten utama

Storm


Seorang pria dengan paras rupawan tengah berkutat dengan gadget pribadinya tampak serius dan tak menghiraukan ramainya suasana di tempat itu. Kafe yang menjadi tempat singgahnya selama tiga jam sejak tadi pagi itu seakan tak membosankan untuknya. Pria itu tampak tak bergeming dari kursi kayunya dan tetap setia berada disana. Terik matahari yang mulai menyusup melalui etalase kaca kafe tersebut juga tak membuat pria itu terusik. Entah hal apa yang sebenarnya membuat pria itu betah berada disana.
Bibir tipisnya perlahan bergerak membentuk sebuah senyuman ketika ia mendapati sebuah pesan masuk di gadget pribadinya. Pria itu kemudian menghembuskan nafasnya dengan berat ketika berhasil membaca apa isi dari pesan yang baru saja masuk. Senyuman itu perlahan sirnah dan digantikan dengan wajah masamnya. Meskipun senyumannya menghilang, ketampanan pria yang menggunakan kacamata itu tak berkurang sedikit pun. Masih sama seperti semula. Pria itu tampan, wajahnya terlihat sangat rupawan.
Tanpa pria itu sadari, sejak tadi ia memasuki kafe itu ada sepasang mata yang terus memperhatikannya. Sepasang manik berwarna abu-abu terang yang terus setia menjaga pandangannya agar tak beranjak dari pria itu.  Pemilik mata itu adalah seorang gadis berambut pendek yang duduk sejauh empat meja dari pria itu.
“Sudahlah, ayo kita pulang!” Ajak seorang pria lainnya yang duduk berseberangan dengan gadis itu. Pria itu mengikuti arah pandang gadis di depannya dengan menolehkan kepalanya ke belakang. Pria itu mendesah prihatin.
 “Sampai kapan kau seperti ini? Ini sudah berjalan dua tahun sejak kecelakaan itu” Ujar pria itu dengan suara sendu.
“Jika kau bertahan disini karena cinta, aku akan sangat membencimu. Kau bukanlah gadis yang jelek, Luna. Adikku tidak pantas menunggui pria itu. Ayo kita pulang!” Gadis yang bernama Luna itu hanya menggeleng lemah dan tetap menujukan arah pandangnya pada pria tadi.
“Daren, apa yang sedang terjadi padamu?” Gumam gadis itu ketika melihat pergerakan dari pria tampan yang sejak tadi menjadi perhatiannya. Pria tampan itu bengkit dari kursinya lalu menyambar kunci mobil yang ada di mejanya.
“Luna, jangan bergerak dari tempatmu! Biarkan dia pergi!” Luna hanya mendecak.
“Louis, bisakah kau tidak menggangguku? Kenapa kau selalu menghalangiku untuk bertemu dengan Daren? Dia calon suamiku dan aku harus mengingatkannya” Luna bersuara dengan intonasi tinggi dan hal itu berhasil membuat beberapa orang memberikan tatapan tidak suka ke arahnya dan juga Loius sang kakak. Pengunjung kafe itu merasa terganggu.
“Aku tak akan mungkin membiarkan adikku harus jatuh dalam kehancuran untuk yang kedua kalinya karena dia” Ucap Louis dengan amarah yang tertahan di wajahnya.
Louis langsung menarik tangan Luna agar adiknya ikut bersamanya dan tidak mengejar pria yang bernama Daren tadi. Luna berusaha berontak dan usaha gadis itu sia-sia karena tenaganya tidak cukup untuk melawan kakaknya. Luna akhirnya pasrah ketika dibawa masuk ke dalam mobil oleh Louis.
Gadis itu berpikir masih ada hari lain untuk menarik perhatian Daren dan membuat pria itu kembali lagi padanya. Luna akan melakukan semua cara agar bisa membuat Daren kembali lagi padanya. Luna tak akan menyerah sebelum ia mendapatkan Daren. Luna tak akan membiarkan calon suaminya itu terus kehilangan ingatannya dan melupakannya begitu saja.
“Jangan terus menerus memikirkannya. Lupakan dia” Ucap Louis sembari melajukan mobilnya, meninggalka halaman parkir kafe tersebut.
 “Aku tidak bisa, Louis” Ucap Luna dengan lemah. Luna kemudian menghembuskan nafasnya. Pikiran dan perasaannya lelah untuk saat ini.
“Kau tau kan? Kecelakaan itu terjadi satu jam sebelum pernikahan kami. Aku rasa jika kau ada di posisiku saat ini kau akan melakukan hal yang sama. Aku benar-benar mencintainya, Louis. Kami saling mencintai. Aku yakin Daren bisa mengingat kembali apa yang seharusnya ia ingat. Daren akan mengingatku. Aku yakin itu dan aku akan menunggunya” Sambung Luna dengan nada bicara yang menggebu.
“Sampai kapan?”
“Sampai Daren mengingatnya”
Kecelakaan mobil yang Daren alami telah membuatnya harus kehilangaan semua ingatannya. Termasuk ingatan tentang siapa dirinya. Perlu waktu yang lama untuk membuat pria itu terbiasa setelah kejadian itu. Kecelakaan yang telah terjadi dua tahun silam itu membuat semua berubah.
“Kau ingat kan dokter pernah berkata padaku jika Daren menyebut namaku setelah ia bangun dari koma?” Tanya Luna dengan lemah. Louis hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan adiknya barusan.
“Berarti Daren mengingatku, hanya saja semua butuh waktu” Luna melanjutkan kalimatnya.
“Tinggalkan dia. Banyak pria diluar sana yang menggilaimu, Luna”
“Aku tidak bisa dan aku tidak ingin meninggalkan Daren”
“Kau harus memaksakannya”
“Tidak! Aku tidak a...” Luna menghentikan kalimatnya ketika sepasang retina matanya menangkap objek yang berhasil membuat nafasnya tercekat. Luna mengerjapkan kedua matanya berkali-kali. Wajahnya terlihat tak percaya dengan apa yang tengah ia saksikan saat ini.
“Menepi” Perintah Luna.
“Kubilang menepi, Louis” Ulang Luna.
“Sudah kubilang lupakan dia. Tak ada lagi yang ia ingat dari dirimu”
“Aku akan turun sekarang juga jika kau tak berhenti”
Louis hanya mendengus. Pria itu akhirnya mengalah pada adiknya. Louis membawa kemudi mobilnya ke pinggiran. Untung sore itu jalanan tidak begitu ramai, sehingga Louis bisa leluasa mengatur kemudinya.
“Tunggu disini dan biarkan aku menyelesaikannya sendiri” Tegas Luna sebelum keluar dari dalam mobil.
Luna dengan percaya diri tinggi berjalan menghampiri dua orang yang tengah berada di taman kota. Luna memamerkan senyumnya untuk menyamarkan kemarahannya. Wajah gadis itu memerah, bukan karena rona malunya ketika seseorang yang benar-benar ia rindukan tengah mengarahkan pandangan ke arahnya. Tepatnya, ia sedang mencoba mengatur rasa marahnya pada gadis berpakaian minim yang tengah berdiri sejajar dengan seseorang yang ia rindukan itu.
“Daren, ayo pulang” Ucap Luna tanpa berpikir.
“Apa-apan gadis ini?” Balas gadis yang ada di samping Daren dengan ketus.
“Aku hanya ingin membawa calon suamiku pulang kerumah. Apa aku salah?”
“Cih... Apa kau sudah gila?”
“Kau yang gila dan kau tidak tau malu karena menggandeng calon suami orang”
“Nona cantik, ini sudah siang sebaiknya kau bangun”
“Daren, ayo kita harus pulang”
“Astaga! Kau cantik tetapi sayangnya kau tidak warasa nona”
Luna tak menggubris gadis itu. Kedua matanya beralih pada pria yang ia akui adalah calon suaminya, Daren. Tatapannya begitu nanar dan terlihat memohon. Terlihat sangat memilukan ketika melihat wajah Luna saat ini. Gadis itu benar-benar terluka.
Daren hanya memicingkan sebelah matanya karena bingung, tak mengerti maksud kedatangan Luna yang mengakuinya sebagai calon suami dan ingin membawanya pulang. Daren memang sering melihat Luna di sekitarnya. Tetapi, ia tak pernah merasa kebingungan seperti saat ini. Gadis itu berkata seperti ia sudah mengenalnya sejak lama.
 “Jangan sentuh dia” Ucap gadis itu dengan kencang ketika tangan kanan Luna terangkat untuk membelai wajah Daren.
“Tak bisakah aku pergi dari hadapanku? Aku benar-benar muak”
Luna mencelos, mendengar kalimat yang barusan keluar dari dalam mulut Daren. Hatinya seakan remuk tak beraturan. Luna merasa kedua matanya memanas dan seakan  siap meluncurkan bulir-bulir air mata dari dalam kelopak matanya. Seperti kejatuhan meteor. Itu yang tengah Luna rasakan saat ini.
“Kau benar-benar melupakanku?” Tanya Luna.
“Kau bicara apa? Aku tidak mengenalmu, nona. Jadi, berhenti menggangguku dan juga kekasihku. Mungkin kau salah orang” Ucap Daren dengan santainya. Gadis yang berdiri di sampingnya malah mengeratkan pegangannya di lengan kanan Daren. Kedua kelopak mata Luna sudah tak mampu lagi menahan air matanya. Luna menangis, menangis tanpa suara mengumumkan kepedihannya karena ucapan Daren barusan.
“Apa kau benar-benar lupa denganku?” Tanya Luna dengan suara bergetar. Daren hanya menganggukkan kepalanya dan ia tak bisa menyembunyikan raut wajah bingungnya.
Daren jelas kebingungan dengan maksud Luna. Seorang gadis yang sangat cantik seperti Luna mengakui dirinya adalah calon suaminya. Ingatannya benar-benar tak bisa mengecap gadis itu dengan baik. Daren tak mengingat apapun dari gadis itu. Wajah, suara bahkan bayangan tentang gadis itu tak pernah ada dalam ingatannya.
“Aku belum pernah menyerah sebelumnya, namun kali ini aku kalah” Ucap Luna.
“Aku sama sekali tak ada dalam ingatanmu. Aku sudah hilang dari hidupmu”
 “Sebenarnya kau siapa, nona? Kenapa kau bicara seolah-olah kita saling mengenal”
“Aku Luna, calon istrimu” Jawab Luna seadanya.
“Sudahlah, kau tak akan ingat. Lebih baik aku pergi” Tambah Luna dengan suara yang semakin terdengar pelan.
“Aku akan pergi dari dunia ini” Sambung Luna dalam hati.
Perlahan Luna membalikan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Daren beserta gadis itu. Perasaannya sangat hancur saat ini. Tak ada hal lain yang dapat dicerna oleh pikirannya selain melenyapkan diri dari peradaban dunia.
Luna tak sanggup bernafas jika Daren sendiri yang membuatnya berhenti bernafas. Luna tak mampu membuat detak jantungnya terus berdetak karena Daren telah menghentikan kinerja jantungnya. Luna mencintai pria itu dengan seluruh hati, perasaan, jiwa hingga nyawanya. Sekarang, semua hanya omong kosong belakang. Luna kehilangan Daren dan gadis itu berarti juga kehilangan segalanya, termasuk hidupnya.
“Aku akan pergi” Bersamaan dengan ucapannya barusan, Luna langsung membawa gerak langkahnya ke tengah jalan raya yang kondisinya sedang ramai. Lalu lalang kendaraan seakan tak membuat gadis itu takut jika salah satu dari kendaraan itu menabrak tubuhnya. Luna memang berniat mengakhir hidupnya dengan cara seperti itu. Berdiri mematung di tengah keramaian kendaraan yang ada di jalan raya.
TINNN...
Lengkingan suara klakson dari sebuah truk pengangkut es menggema di pendengaran Luna. Gadis itu tak mengindahkannya. Riuh orang-orang yang meneriaki dirinya untuk menepi seakan hanya angin yang berlalu di pendengarannya. Luna tetap pada posisinya. Berdiri di tengah jalan raya itu dengan kedua mata tertuutp rapat. Gadis itu siap dengan takdir yang ia buat sendiri. Gadis itu siap meninggalkan dunia ini.
 “Aku bersamamu” Ucap seseorang dengan lantang. Luna kemudian merasa lengan kanannya ditarik dengan kencang. Tubuhnya terbawa oleh seseorang yang tangannya masih bertengger di lengannya. Luna tau persis siapa pemilik suara itu. Gadis itu tau siapa seseorang yang baru saja, katakan seseorang itu telah menyelamatkannya.
Jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Keringat dingin mengucur di dahinya. Bayangan tentang kejadian buruk yang akan menimpanya jika ia masih berada di tengah jalan sana seketika lenyap ketika hidung mancungnya menabrak dada bidang orang yang tengah mendekap tubuhnya. Wajah Luna bersembunyi dibalik dada bidang itu. Aroma maskulin yang menguar dari tubuh orang itu melonggarkan saraf tubuhnya yang tadi sempat menegang.
“Aku bersamamu” Suara itu kembali terdengar. Luna dengan cepat membuka kedua matanya dan mendapati dirinya kini berhadapan dengan dada bidang seorang pria. Daren.
 “Daren” Panggil Luna lirih. Kedua tangan gadis itu kemudian melingkari pinggang pria yang tengah memeluknya itu. Luna memeluknya dengan erat.
“Aku disini. Aku  bersamamu” Jawab pria itu dengan tegas.
Kalimat itu selalu terngiang di telinga Luna. Pemilik suara yang khas itu adalah seseorang yang sangat ia kenal. Luna tak akan pernah lupa bagaimana ekspresi wajah seseorang itu ketika mengucapkannya karena seseorang itu adalah Daren. 
“Kau menyelamatkanku. Apa kau sudah mengingatku?” Tanya Luna dalam hati.
Tak ada jawaban dari Daren karena Luna memang tak menyuarakan pertanyaannya barusan. Daren jelas-jelas mengatakan jika ia tak mengingat dirinya sama sekali. Tetapi, pria itu telah menyelamatkannya dan sekarang tengah memeluknya dengan erat. Luna sangat merindukan pelukan pria itu. Sangat.
“Daren, kau mengingatku?”
“Aku tidak pernah melupakanmu. Aku selalu mengingatmu”
“Lalu, apa maksud semua ini?” Tanya Luna dengan penasaran. Gadis itu kemudian melepaskan pelukannya dan mendongakan kepalanya untuk melihat wajah pria yang sangat ia rindukan. Air mata yang sudah mengaliri kedua matanya seakan kering dan hanya meninggalkan bekas jejak basah cairan bening itu. Mereka, Luna dan Daren seakan tak peduli jika mereka dijadikan bahan tontonan oleh setiap orang yang berjalan di pinggir jalan itu.
“Kenapa kau melakukan ini semua? Kau seakan tak pernah mengingat siapa aku. Apa kau berusaha melupakanku?” Tanya Luna dengan wajah sendu.
“Aku melakukannya karena aku cangat mencintaimu. Semua kulakukan karena aku tak ingin Louis menyakitimu. Kau mengerti maksudku?” Daren balik bertanya. Penjelasan pria itu tak bisa tertangkap oleh pikiran Luna.
Daren yang bisa membaca apa yang tengah berkecamuk dalam pikiran gadis itu akhirnya menangkupkan kedua tangannya di wajah Luna. Menatap tajam kedua manik mata Luna dengan intens. Gadis itu hanya terdiam dan balas menatap pria di hadapannya dengan tatapan nanarnya.
“Louis menginginkanmu. Louis yang membuat pernikahan kita batal. Louis yang telah mencelakai diriku. Semua karena Louis sangat menyayangimu. Dia mencintaimu” Jelas Daren. Luna kemudian membuka mulutnya mendengar apa yang baru saja Daren katakan. Kepalanya menggeleng ke kanan dan kiri. Berusaha menepis semua yang di katakan Daren dalam pikirannya.
“Louis yang merencanakan semua ini. Louis menyuruh orang bayarannya untuk menmbuatku celaka. Aku mengetahuinya karena aku tak sengaja mendengar semuanya, Luna. Rencana Louis untuk menyingkirkan aku dari hidupmu” Jelas Daren lagi. Luna sekali lagi mencelos mendengar apa yang sebenarnya tak ingin di dengarnya.
“Dia ingin aku mati dan kau bisa hidup bahagia bersamanya. Tetapi, Tuhan berkehandak lain hingga aku bisa di selamatkan ketika kecelakaan itu terjadi” Sambung Daren. Gadis yang tengah ditatapnya lagi-lagi menangis.
“Dokter bilang kau amnesia saat itu” Luna kemudian memberikan pertanyaannya sembari menggerakan tangannya untuk menggenggam tangan besar yang ada di kedua pipinya.
“Tentang amnesia itu...” Daren menggantungkan kalimatnya ketika melihat seseorang berjalan kearahnya dan juga Luna.
“Aku hanya berpura-pura dan aku tak pernah lupa padamu. Aku selalu ada bersaamamu meski kau tidak tau itu. Aku sangat mencintaimu Luna. Aku melakukan semua ini agar aku bisa terus melihatmu” Ujar Daren dengan terburu. Pandangannya tak lepas dari objek di depan sana. Seseorang yang dapat membahayakan nyawanya dan juga nyawa gadis yang sedang bersamanya.
“Kau harus mati, keparat!” Bersamaan dengan suara berat itu. Daren langsung menarik tubuh Luna ke dalam pelukannya. Mendekap gadis itu dengan sangat erat. Luna dapat mendengar dengan jelas bagaimana detak jantung Daren yang tak beraturan. Tetapi, gadis itu hanya mengikuti semua pergerakan yang Daren lakukan.
“Aku akan mengajaknya mati bersamaku” Tukas Daren dengan garang. Luna sedikit terkejut. Gadis itu kemudian merasa tubuhnya diseret untuk berjalan meninggalkan tempatnya berpijak tadi.
 “Akh...” Pekik Daren seperti menahan rasa sakit. Luna benar-benar cemas sekarang. Rasa takut menyerangnya dan ia benar-benar bodoh karena tak tau apa yang tengah terjadi.
“Kau tidak bisa merebutnya dariku” Luna tau betu itu suara kakaknya, Louis.
“Kembalikan Luna dan jangan pernah berharap bisa memiliknya” Ucap Louis lagi.
“Kau mencintaiku dan aku mencintaimu. Kau harus percaya padaku” Luna hanya menganggukan kepalanya. Gadis itu kemudian merasakan hangatnya bibir Daren di puncak kepalanya.
“Pejamkan matamu dan terus memelukku” Luna kembali mengangguk mematuhi ucapan Daren barusan.
TINNN...
Kembali Luna harus menerima lengkingan suara klakson di telinganya. Luna ingin sekali melihat apa yang sebenarnya tengah terjadi pada dirinya dan juga orang yang tengah memeluknya. Tetapi, semua menjadi sulit. Berada dalam pelukan Daren membuatnya tak bisa melihat apa yang tengah terjadi pada Daren dan juga dirinya.
 CITTT.... BRAKKK....
Pandangan Luna mengabur setelah sesuatu yang keras menghantam pinggang kanannya hingga ia merasa diterbangkan sejenak. Gadis itu tetap memeluk pria yang juga tengah memeluknya. Kemudian Luna merasa tubuhnya terhempas di alas yang sangat keras hingga mampu membuatnya mengeluarkan cairan kental yang terasa asin dari dalam mulutnya.
“Aku... Ak... Ak... Aku mencintaimu” Ucap Daren dengan terbata. Setelah mengucapkannya, tak ada lagi detak jantung yang memenuhi telinga Luna.

“Aku sangat mencintaimu” Balas Luna dalam hati karena ia tak sanggup mengucapkannya.Kepalanya terasa berat dan aroma darah memenuhi penciumannya. Nafasnya mulai sesak. Semua telah berakhir, seperti itu batin Luna. Tetapi, pelukan yang sangat erat di tubuhnya memberi sedikit kesadaran jika ia tak sendiri. Rasa sakit sudah menjalari seluruh tubuhnya. Luna merasa ia sudah tak bisa bertahan dalam waktu yang lama. Luna measaka sakit bersama pria itu, bersama pria yang sangat cintai dalam hidupnya setelah sang ayah.

Author  : Kiki Ningrum

Komentar