Langsung ke konten utama

Dorothy

Bayi perempuan yang tengah menangis itu tak dihiraukan oleh wanita yang terbaring di sebelahnya. Suara nyaring dari tangis bayi perempuan itu seakan hanya deruan angin yang sama sekali tak menganggu wanita itu. Wajah bayi perempuan itu memerah akibat tangisnya. Kedua tangan mungilnya bergerak ke atas menggapai-gapai udara yang mengelilinginya.
Tak ada yang memedulikan tangis bayi itu. Termasuk wanita yang terbaring di sampingnya. Nafas bayi perempuan itu terengah. Tetapi, tangisnya belum juga berhenti. Air matanya terus mengalir membasahi pipi tembamnya.
“Eak... Eak... Eak...” Masih sama seperti dua jam yang lalu. Bayi perempuan itu terus menangis dan tubuhnya bergerak-gerak. Mengharapkan ada yang mau mendengarnya dan membawanya ke dalam gendongan. Bayi itu terlihat lapar.
“Ibu, lihat aku. Aku lapar, ibu” Jika bayi perempuan itu bisa berbicara pasti ia akan menyauarakan kalimat itu pada sang wanita. Sayangnya, bayi itu lemah. Bayi perempuan yang usianya baru empat hari itu memerlukan ASI dari wanita yang berbaring disampingnya.
“Eak... Eak...” Suara tangis masih menggema di dalam kamar besar dengan nuansa warna putih gading itu. Wanita itu diam dan terus memandang ke arah jendela. Tubuhnya tak mau bergerak barang memiringkan ke sebelah kanannya untuk melihat bayi perempuan itu.
BRAKKK...
Pintu kamar itu terbuka dan daun pintunya terbanting ke dinding dengan sangat kencang. Wanita itu lantas menolehkan kepalanya ke arah ambang pintu yang baru saja terbuka. Raut wajahnya tetap sama. Tenang, seakan apa tertangkap oleh iris matanya hanya angin yang mendesak pintu kayu itu untuk terbuka.
“Keterlaluan kau, Na Eun!” Bentak seorang pria jangkung bertubuh tegap yang tengah berdiri di ambang pintu itu.
Pria itu terlihat sangat marah. Secepat kilat ia berjalan mendekati ranjang itu. Terjadi sedikit pergerakan disana. Ranjang itu sedikit berderit ketika menahan bobot tubuh sang pria yang tengah merunduk untuk mengangkat baya perempuan itu kemudian membawanya ke dalam gendongannya.
Pria itu seperti tak dianggap oleh wanita yang di duga bernama Na Eun. Ia sama sekali tak dilirik setelah tindakannya barusan yang menggendong bayi perempuan itu. Na Eun malah menutup kedua matanya, berlagak seperti orang tidur.
“Kau selalu seperti ini. Sebenarnya apa yang kau inginkan?” Tanya pria itu dengan intonasi yang lebih rendah dari sebelumnya.
“Katakan padaku, Na Eun. Apa yang membuatmu seperti ini pada anak kita?”
“Apa yang membuatmu seperti ini? Kenapa kau berubah?”
“Bukankah dulu kau sangat ingin memiliki seorang anak?”
“Na Eun, Kim Na Eun istriku. Ini anak kita. Jangan bersikap seperti ini padanya”
“Kim Nauen” Panggil pria itu dengan suara lirihnya.
“Aku bukan ibunya!” Jawab wanita yang bernama Na Eun itu dengan tegas.
Na Eun kemudian bergerak di atas ranjang. Pergerakan wanita itu membuat tubuhnya terduduk di pinggir ranjang, membelakangi pria yang tak lain adalah suaminya. Kudia tangan wanita itu mencengkeram selimut tebal yang ada di sisi kanan kiri tempatnya duduk. Punggungnya bergerak naik turun, seperti orang yang tengah menangis.
Wanita itu tetap tak mengeluarkan suaranya. Isakan berlangsung dalam diam. Kalah dengan suara tangis bayi perempuan yang tengah berada di gendongan sang ayah. Bayi perempuan itu enggan menghentikan tangisnya.
“Aku tidak mau memilki anak seperti dia dan aku tidak mau mengurusnya. Jika kau terus memaksaku untuk mengurusnya, lebih baik aku pergi. Aku tidak menginginkannya”
Bagaikan disambar petir. Pria itu langsung merasa kedua lututnya melemah karena ucapan istrinya barusan. Ia tak pernah mengira jika istrinya akan berbicara seperti itu.
“Aku pergi” Berbarengan dengan ucapan wanita itu, tubuh tinggi dan langsingnya langsung berdiri. Berjalan memutari ranjang dan hanya memberi pandangannya sekilas pada suaminya. Kedua matanya bengkak akibat tangisnya barusan. Bekas cairan bening yang berasal dari kelopak matanya terlihat jelas di kedua pipinya yang tirus.
“Eak... Eak... Eak...” Tak ada kalimat pamit yang terucap dari mulut Na Eun untuk bayi perempuan yang masih menangis itu. Meliriknya saja tidak. Na Eun seakan menganggap bayi perempuan itu bukanlah darah dagingnya. Pandangannya tak bergerak dari kedua manik mata sang suami. Setelah beberapa menit berlalu, Na Eun beranjak dan benar-benar pergi meninggalkan suami dan juga bayi perempuannya.
“Kau benar-benar pergi? Apa salah anak ini, Na Eun?” Tanya pria itu dalam hati. Air matanya meleleh begitu saja. Rahangnya yang kokoh mengeras, menahan segala perasaan yang membuncah dalam dirinya.
Seakan terikat dengan pria itu, bayi perempuan yang ada dalam gendongannya semakin mengencangkan suara tangisnya. Bayi perempuan itu jelas merasa kehilangan. Sosok seorang malaikat yang harusnya mendampinginya, merawatnya dan menyayanginya telah pergi. Ibu dari bayi perempuan itu sudah pergi dan entah akan kembali atau sebaliknya.
“Tenang sayang. Jangan menangis. Abeonim (Ayah) ada disini. Abeonim menyayangimu. Abeonim yang akan merawatmu, sayang” Ucap pria itu seraya mengangkat bayi perempuannya lebih tinggi dan mendaratkan kecupan di kedua pipi tembamnya. Air mata keduanya bercampur. Kesedihan begitu kentara dan menyelimuti ruang kamar itu. Pria itu akan menjadi orangtua tunggal untuk bayi perempuannya.
“Ini semua salahku”
Pria itu sudah siap dengan apa yang akan ia hadapi. Pria itu sudah bersumpah akan menjaga bayi perempuannya. Pria itu juga berjanji di dalam hatinya, wanita yang menjadi istrinya itu akan selalu menjadi istri dan ibu yang paling hebat di dunia untuknya dan juga bayi perempuannya.
Higga tak terasa, tujuh belas tahun sudah terlewati begitu saja. Pria itu membuktikan janjinya dan segala ucapannya untuk merawat bayi perempuannya. Pria itu menjadi sosok ayah yang sangat baik untuk bayi perempuannya. Pria itu, pria yang menyandang marga Lee dan berasal dari sebuah keluarga terpandang di kota kelahirannya, Incheon, Korea Selatan. Lee Jae Suk.
Setelah kejadian itu berlalu dengan semua kenangan dan kejadian yang sangat jauh dari benak pria itu. Bayi perempuan itu sudah menjadi seorang gadis yang menggemaskan. Wajahnya cantik dengan kedua pipi gemuk yang selalu berwarna merah muda. Kulitnya putih bersih dan tubuhnya sedikit gendut. Rambutnya panjang menjuntai dengan warna cokelat gelap ketika terkena terik matahari.
“Dorothy” Panggil sang ayah, Lee Jae Suk dengan sayang. Gadis itu kemudian menghentikan kegiatan yang tengah merapikan buku-buku pelajarannya. Gadis yang diberi nama Dorothy Lee itu kemudian berjalan mendekati sang ayah.
“Apa harimu menyenangkan?”
“Sangat menyenangkan. Abeonim harus tau jika hari ini aku ditunjuk sebagai ketua dalam kelompok belajarku. Aku sangat senang”
“Anak yang cerdas. Abeonim akan memberikan hadiah untukmu nanti”
“Tida perlu, abeonim”
“Kenapa sayang?”
“Hadiah yang abeonim berikan sudah sangat banyak. Aku sampai bingung meletakannya. Kamarku sudah dipenuhi hadiah dari abeonim”
Ucapan Dorothy barusan berhasil membuat sang ayah tertawa ringan. Pria itu kemudian mengangkat sebelah tangannya untuk mengusap kepala putrinya. Dorothy dengan sigap langsung menarik tangan sang ayah dan mendaratkannya di atas kepalanya.
“Kau tau? Abeonim merasa kau semakin hari semakin cantik”
“Aku memang cantik. Abeonim bilang aku cantik seperti wanita yang ada dalam figura itu kan?” Kekeh Dorothy.
“Iya, kau cantik seperti wanita itu”
“Abeonim. Aku sangat menyayangimu”
Dorothy langsung mendaratkan kecupannya di kedua pipi sang ayah yang mulai kering keriput. Gadis itu kemudian memeluk tubuh gagah ayahnya dengan erat. Dorothy merasa sangat nyaman ketika berada dalam pelukan sang ayah. Gadis itu kemudian memejamkan kedua matanya.
“Abeonim, apakah aku akan bertemu dengan wanita itu?”
“Wanita yang mana?”
“Ibuku”
Jawaban Dorothy membuat nafas Lee Jae Suk tercekat. Pertanyaan yang selalu menjadi mimpi buruk baginya ketika ia tertidur. Pertanyaan yang berhasil membuat detak jantungnya berpacu. Pertanyaan yang sering dipertanyakan oleh Dorothy selama tiga belas tahun terakhir dan belum juga terjawab oleh Lee Jae Suk. Pria itu selalu diam dan tak menjawabnya. Dorothy hanya bisa pasrah dan menunggu sang ayah menjawabnya. Gadis itu tak tau kapan waktunya.
“Abeonim, apakah ibu masih ada?”
“Ibuku tinggal dimana?”
“Ibuku pasti sangat cantik”
“Abeonim, terimakasih untuk semuanya”
Gumam Dorothy dengan pelan. Gadis itu tetap memeluk sang ayah. Ia paham betul apa yang tengah dipikirkan sang ayah saat ini. Pertanyaannya itu memang selalu dijwab dengan diam oleh sang ayah. Dorothy sudah sering mendapatinya.
Hening, keadaan ruang tengah kediaman Lee Jae Suk mendadak hening. Dorothy sudah tak mengeluarkan suaranya. Gadis itu sibuk memikirkan diagnosanya mengenai keberadaan sang ibu. Dorothy bergelut dengan pikirannya. Sama seperti Dorothy, Lee Jae Suk juga hanya diam dan sesekali tangannya mengusap punggung mungil anaknya.
“Dua hari lagi adalah hari ulang tahunmu yang ke tujuh belas. Benar kan?” Tanya ayahnya, memecah keheningan itu.
“Iya abeonim”
“Apa hadiah yang kau inginkan, sayang?”
“Abeonim harus selalu sehat dan berada di dekatku selamanya”
“Hanya itu”
“Aku tak punya keinginan lain, abeonim. Aku hanya ingin bahagia bersama orang yang telah merawatku dan menyayangiku hingga aku sebesar ini”
“Abeonim, berjanjilah untuk selalu sehat”
Dorothy kemudian melepaskan pelukannya. Gadis itu kemudian menatap kedua manik mata berwarna cokelat cerah milik sang ayah. Kedua tangan Dorothy menggenggam erat tangan ayahnya. Gadis itu kemudian mengulas senyum.
“Abeonim akan membawamu bertemu dengan ibumu”
Dorothy membulatkan kedua matanya mendengar ucapan ayahnya barusan. Gadis itu kemudian melepaskan kedua tangannya dari tangan sang ayah dan mendaratkan telapak tangannya di depan mulutnya. Dorothy menggeleng, ia begitu terkejut.
“Abeonim akan mempertemukan kalian. Kau dan ibumu”
“Abeonim” Dorothy menyerukan nada keterkejutannya karena ucapan ayahnya barusan.
Keduanya kemudian kembali terdiam. Bergelut lagi dengan pikiran masing-masing. Dorothy dengan semua bayangannya mengenai wajah sang ibu, kesenangannya ketika dapat bertemu dengan wanita yang telah melahirkannya. Gadis itu benar-benar tak bisa berhenti memikirkan bagaimana reaksinya saat bertemu dengan ibunya, wanita yang selama ini ia rindukan. Wanita yang hanya bisa ia lihat dari dalam figura saja. Wanita yang selalu ada dalam doanya. Wanita yang berharga untuknya, meski belum pernah ia temui.
Berbeda dengan Dorothy. Lee Jae Suk juga tengah berkutat dengan pikirannya. Pria itu sebenarnya belum siap untuk mempertemukan Dorothy dengan Na Eun, sang ibu. tetapi, ia juga tak memungkiri jika rasa rindunya pada wanita itu mengalahkan segalanya. Lee Jae Suk sudah siap dengan reaksi dari istrinya nanti. Pria itu berharap semua akan baik-baik saja ketika hari itu tiba.
Hari ulang tahun Dororthy, 17 Maret telah di depan mata. Gadis itu nampak tegang ketika berjalan menyusuri halaman yang cukup luas salah satu rumah megah yang ada di kota Daegu.  Dorothy menggigit bibir bawahnya karena ia merasa detak jantungnya tak normal. Keringat dingin membasahi telapak tangan dan punggungnya.
TING...
Suara bel yang nyaring menyadarkan Dorothy jika dirinya sudah berada tepat di depan pintu kayu yang tinggi menjulang dan berukuran besar itu. Dorothy semakin dekat dengan sang ibu. Gadis itu sudah sangat tidak sabar untuk melihat ibunya sekaligus gugup jika nanti ia tak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak terharu bahkan menangis. Dorothy tak ingin ibunya, wanita yang sudah tak ia temui sepanjang hidupnya menganggap dirinya gadis yang lemah. Dorothy ingin ibunya bangga karena memiliki anak perempuan sepertinya.
KLEKKK...
Pintu tinggi dan besar itu terbuka perlahan, menghadirkan seorang wanita yang tengah menggenakan gaun berwarna sama dengan Dorothy. Dorothy hampir kehilangan oksigennya ketika melihat wajah wanita itu. Dorothy sangat ingat wajah itu meski hanya dari figura. Ia tau siapa wanita itu. Dorothy langsung berhambur memeluk wanita itu.
“Eommonim”
Terjadi pergerakan dari wanita itu. Dororthy tetap tak bergeming dan terus memeluknya. Wanita itu berontak untuk di lepaskan dari pelukan gadis cantik itu. Kedua tangan wanita itu bertengger di kedua sisi lengan Dorothy dan dengan kencang mendorong gadis itu. Dorothy kemudian terdorong ke belakang dan terhempas begitu saja di atas lantai marmer yang berwarna putih gading itu.
“Jangan panggil aku ‘ibu’ karena aku bukan ibumu” Ucap wanita itu dengan kencang.
Dorothy membuka mulutnya, begitu terkejut dengan ucapan wanita itu. Dorothy menahan mati-matian air matanya yang sudah terkumpul di kelopak matanya. Gadis itu berdiri, memandang wanita yang merupakan ibunya dengan tatapan nanar. Wanita itu malah mengalihkan pandangannya dan menghujam ayahnya dengan tatapan membara.
“Kenapa kau kesini? Kenapa kau membawa anak ini untuk bertemu denganku?” Tanya wanita itu pada Lee Jae Suk yang berdiri di samping Dorothy. Pria itu berdiri dengan tegap. Salah satu tangannya memegang tongkat kayu dan matanya dibingkai dengan kacamata.
“Lupakan semua yang sudah berlalu, Na Eun. Dia putrimu, anak yang kau lahirkan dari dalam rahimmu. Anak yang sudah kau kandung selama sembilan bulan. Lihat dia, gadis itu adalah anakmu” Ucap Lee Jae Suk dengan suara bergetar.
“Kau kira aku akan dengan mudah memaafkan semua yang telah terjadi padaku ketika aku mengandungnya? Anak itu adalah anak sial”
“Na Eun, jaga bicaramu. Dorothy bukan anak sial. Dia anakmu. Dorothy adalah satu hadiah dari Tuhan yang diberikan kepada kita, Na Eun”
“Cih... Hadiah dari Tuhan kau bilang? Ambil saja hadiah itu. Jadikan hadiah itu ‘milikmu’ Lee Jae Suk”
 “Ya Tuhan, apa yang kau katakan? Kenapa kau seperti ini?”
“Karena dia. Aku seperti ini karenanya, ketika aku mengandungnya aku kehilangan ayahku, karirku, kebahagiaanku dan semua yang kumiliki di dunia ini hilang karena gadis ini. Aku harus merasakan sakit yang luar biasa ketika mengandungnya. Dia membuatku kerepotan dan dia selalu menyusahkanku. Aku mempertaruhkan nyawaku dan dia terlahir ‘cacat’ gadis ini membuatku malu” Telunjuk Na Eun mengarah ke wajah Dorothy.
“Aku sudah tidak buta eommonim” Ucap Dorothy bercampur tangis.
“Aku tetap tidak peduli. Aku tetap tidak ingin melihatmu lagi” Ucap wanita itu dengan sinis. Sedetik kemudian, Na Eun beranjak dari hadapan Dorothy dan juga Lee Jae Suk untuk masuk kembali ke dalam rumahnya. Menutup pintu tinggi dan besar itu dengan sangat kencang membuat Dorothy maupun Lee Jae Suk terkejut.
“Dorothy”
“Aku baik-baik saja, abeonim. Eommonim mungkin benar”
“Dorothy, anakku. Kau adalah gadis yang hebat. Aboenim yakin kau bisa memaklumi semua ini. Kau harus bisa menerimanya, sayang” Dorothyu hanya menganggukan kepalanya. Gadis itu memaksakan dirinya untuk tetap tersenyum. Kedua tangannya menghapus air matanya sendiri.
“Kita pulang saja, Abeonim” Ajak Dorothy dengan tangan kanan yang meraih tangan kiri sang ayah. Gadis itu kemudian berjalan beriringan dengan ayahnya, bergegas dari rumah yang menjadi tempat tinggal sang ibu. 
“Abeonim, terimakasih. Terimakasih karena sudah mau memberikan kesempatan untukku agar bisa melihat wajah ibuku. Terimakasih atas semuanya. Abeonim, aku akan terus berbakti padamu dan juga eommonim” Ucap Dororthy dalam hati.
Gadis itu sedikit miris melihat sang ayah. Pria itu, pria yang usianya hampir menginjak usia lima puluh tahun adalah pria yang sudah mendonorkan kedua matanya untuk Dorothy. Menukar indera penglihatannya untuk kebahagiaan Dorothy. Gadis itu tak salah jika setiap saat selalu bersyukur pada Tuhan karena memiliki ayah seperti Lee Jae Suk.


By : Kiki Ningrum

Komentar